Saya sengaja membuat tulisan ini setelah membaca salah satu note milik salah satu teman fb saya, Restu Ashari, yang menceritakan proses kreatifnya terhadap sastra (baca: puisi). Sebenarnya, saya sempat menulis catatan serupa, tapi tidak pernah jadi karena berbagai hal. Maka dari itu, saya kembali membuat tulisan semacam ini.
Saya mulai menulis puisi sejak masih SD, tepatnya kelas 4 SD. Berawal saat salah satu anak dari keluarga tetangga saya akan menikah. Otomatis, keluarga di rumah saya ikut membantu mempersiapkan hajatan pernikahannya yang akan dilangsungkan secara mewah, tepatnya di sebuah gedung besar di kota kelahiran saya, Kuningan. Anak tetangga saya itu akan menikahi seorang anak konglomerat asal kota sebelah. Di lingkungan saya waktu itu, hal tersebut cukup "fenomenal", mengingat bahwa lingkungan saya adalah lingkungan orang-orang yang tingkat ekonominya menengah ke bawah. Maka, kisah pernikahan ini seolah mirip kisah Cinderella (alah, lebay!).
Beberapa minggu sebelum dilangsungkannya pernikahan, seperti biasa, diadakanlah acara "selametan", semacam perkenalan antara keluarga kedua mempelai. Pada acara tersebut, hadirlah seluruh anggota keluarga dari sang konglomerat. Di antara mereka, ada 3 anak yang terlihat seusia saya yang hadir di sana, yang saya ketahui kemudian merupakan keponakan-keponakan dari calon mempelai anak tetangga saya itu. Mereka bertiga sama-sama gemuk dan terlihat sehat, biasa lah, namanya juga anak-anak orang kaya (setidaknya mereka terlihat amat terurus). Saya tertarik pada mereka bertiga, saya ingin sekali berkenalan dengan mereka dan kalau bisa sih menjadi teman atau sahabat pena. Dengan AMAT NORAK dan gayanya seperti anak kecil sekali (ya iya lah, toh sayanya juga masih kecil waktu itu, hahaha! =p), saya mengajak berkenalan pada mereka bertiga. Mereka menertawakan saya, seolah saya ini badut yang pantas ditertawakan. Lantas mereka pun memperkenalkan diri mereka, kita sebut saja nama mereka Bintang, Bulan, dan Kabut (maaf, saya tidak mau mencantumkan nama asli mereka, karena takut mereka bertiga "tambah GR" kalau membaca tulisan ini).
Saya pun mengajak mereka ngobrol dengan cara yang norak pula. Ah, memalukan. Untungnya, Bulan dan Kabut merespon saya dengan baik, mereka selalu tertawa bila saya berbicara. Tapi, sayangnya Bintang, tidak mau merespon saya. Ia terlihat sangat cuek sekali. Padahal, dalam lubuk hati saya yang terdalam, saya ingin sekali akrab dengan Bintang. Selain karena secara fisik dialah orang yang saya suka (jujur saja, sejak kecil, gairah seksual saya sudah nampak. Saya mimpi basah pertama kali pada saat saya masih duduk di kelas 2 SD), dia juga seusia dengan saya. Bulan dan Kabut usianya di bawah saya. Kenapa ya? Saya amat penasaran, tapi tidak begitu saya hiraukan kemudian karena saya terus melanjutkan ngobrol dengan Bulan dan Kabut.
Setelah itu, setelah berhari-hari acara selametan itu berakhir, saya jadi "kepikiran" mengapa Bintang tidak merespon saya. Akhirnya, saya meminta nomor telepon Bintang kepada anak tetangga saya itu. Saya pun menelponnya dan akhirnya berbincang-bincang dengannya. Ia sangat tidak familiar, sangat judes, dan terlihat sekali sombongnya. Ia selalu menceritakan mainan-mainan kepunyaannya dan betapa "hebatnya" sekolah yang ia tempati. Saya sama sekali tidak merasa risih atau menjadi sebal, karena saya menyukai dan ingin sekali berteman dengannya (atau bercinta dengannya? Hahaha! =p). Hampir setiap hari saya selalu menelponnya (sampai-sampai biaya telpon rumah meledak!), tapi semakin hari ia semakin merasa risih kepada saya. Akhirnya kita janjian akan bertemu, pada saat anak tetangga saya itu menikah.
Saya dan Bintang pun bertemu pada acara nikahan anak tetangga saya itu. Saya juga bertemu dengan Bulan dan Kabut. Seperti sebelumnya, Bulan dan Kabut sangat responsif terhadap saya. Dan, Bintang, sedikit memberi saya respon. Dengan amat berani, saya duduk di jajaran tempat duduk keluarga mempelai hanya untuk bergabung dengan Bulan, Bintang, dan Kabut. Orang tua saya yang sedang bantu-bantu di acara tersebut sampai memarahi saya karena tidak tahu diri. Kemudian, KETIDAKTAHUAN DIRI saya pun semakin mencuat, saya memutuskan untuk MENYANYI DI PANGGUNG dengan membawakan lagu anak-anak secara karaoke di kaset (yang sengaja saya bawa dari rumah) dan hanya sayalah satu-satunya anak kecil yang menyanyi di panggung pesta pernikahan tersebut. Tujuannya, saya ingin sekali semacam "cari perhatian" pada Bintang. Tapi, saat saya menyanyi, Bintang adalah satu-satunya orang yang paling menertawakan saya. Para tamu lainnya malah sibuk dengan urusannya masing-masing. Kabut dan Bulan memberi sorak, tapi mereka tidak terlihat menertawakan saya, tidak seperti Bintang.
Selesai menyanyi, saya dimarahi habis-habisan oleh kakak-kakak saya yang kebetulan menjadi penunggu meja buku tamu. Mereka bilang saya benar-benar tidak tahu malu. Tapi, saya tidak terlalu menggubris mereka karena mereka sudah biasa seperti itu terhadap saya. Kemudian, saya menuju pada Kabut, Bulan, dan Bintang. Kabut dan Bulan menyoraki saya dan menyebut saya "bagus" setelah saya menyanyi tadi. Tapi, Bintang.... ia mengatakan, "Kamu bener-bener nggak tahu malu. Hahaha. Kamu tuh cuma anak orang miskin...."
Kata-kata yang Bintang lontarkan itu benar-benar menyayat hati saya dan sampai saat ini tidak bisa saya lupakan. Saya ingin menangis, menangis keras saat itu. Kemudian, saya melihat bingkisan ucapan terima kasih di jajaran buku tamu. Bingkisan tersebut semacam buku diary kecil. Saya mengambilnya satu.
Setelah acara pernikahan itu selesai dilangsungkan, saya tidak pernah berhenti bersedih. Dan anehnya, rasa suka saya terhadap Bintang semakin dalam. Saya terus berangan-angan untuk bisa berteman dengannya, bisa bersamanya terus. Maka, saya tumpahkan ke dalam puisi, yang saya tulis di diary yang merupakan bingkisan ucapan terima kasih dari pesta pernikahan itu. Dari sana saya rajin menulis puisi dan isinya melulu mengenai perasaan saya terhadap Bintang.
Kakak-kakak saya mengetahui bahwa saya suka menulis puisi di diary tersebut, lalu mereka marah. Mereka merusak diary itu dan melarang keras saya untuk menulis puisi. Alasan mereka pun kurang jelas. Tapi, karena saya ini pembangkang dan pemberontak, saya masih menuliskan puisi, di buku tulis yang sengaja saya beli di warung dekat rumah. Isinya masih tentang rasa saya terhadap Bintang.
Beberapa bulan kemudian, Bintang datang lagi ke kota kelahiran saya, tepatnya ke rumah tetangga saya itu. Saya sambut dia dengan amat gembira (padahal seharusnya saya membenci dia!), tapi ia tetap bersikap sombong. Perasaan saya makin larut terhadapnya. Saya semakin menuliskan puisi tentangnya. Ternyata, saat itu adalah saat terakhir saya bertemu Bintang.
Hingga saat ini, saya belum pernah bertemu Bintang lagi. Tapi, di tahun 2008, saya mendengar kabar bahwa keluarga suami dari anak tetangga saya itu (alias keluarga Bintang juga) mengalami kebangkrutan atas usaha hotel ternama yang mereka kelola selama bertahun-tahun. Bahkan, keluarga ini sempat ditipu berkali-kali oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hotel yang mereka kelola akhirnya dijual. Tetangga saya itu pun terlihat lesu perekonomiannya. Rumah lama mereka dijual ke kakak kedua saya dengan harga yang amat murah.
Saya tidak mau menanggapi kabar-kabar tersebut.
IBS
29 Oktober 2009