Selasa, 24 November 2009

Black Tears

"The sun may never shine upon my face anymore
I know
My face has been full of the revenge of the vague morning

The moon may never shine upon my smile anymore
I know
My smile has been disgraced with wound of the smelted night"

I’ve just lamented them truly
When they didn’t come before:
I had walked so gladly
To the ecstasy of hurtful more

The cracked land isn’t the complaint
The painful rain isn’t unfortunate
The stories come with the same
Spreading pieces of experience

Black tears are poured by me
To the long river of nasty
Wish them arriving to the sea
Blowing the wise wave freely


(July 30th, 2009 04:49 PM)

*) this poem is translated from the Indonesian poem title "Tangisan Hitam". This Indonesian poem title is originally included on my new poem book entitled, "Merenggut Kembali Keperjakaan".



Sabtu, 21 November 2009

My Senior High School's "Best Friends"

I was so sad when I knew one of the people whom "I thought" were my close friends since I was in senior high school didn't realize even looked like she knew nothing about my complication of diabetes, whereas I always published it (my complication of diabetes) more and more on my facebook's statuses, even for 2 months nonstop! In fact, during that time she was on-line on facebook for once a week or three times a week, so she had more chances in possibility to know it. But, she asked me why I always looked like staying in room without going to campus or whatever for days. Geesh! I was so shocked! I felt like I was invisible. I was lost. I was nothing for her. Actually, we were together for years. I wrote a special poem for her when I was 17 and she "said" she was touched with it. We stepped through our best and worst times. I guessed it made us know each other well.

Firstly, I saw that problem from my subjective point of view. I didn't try to feel her. I was f**ked up. Then I wrote a poem entitled "Sinar Mentari yang Cerah Untuk Ketidakpastian" (in english "The Bright Morning Sunshine For The Uncertainty"). And I wrote it for a day after I didn't eat yet, didn't sleep yet, and didn't consume my complication of diabetes' drugs yet. It was terrible. I lost my weight and I didn't feel comfort with my self. She (a person whom "I thought" was my close friend since I was in senior high school) was told by me that I had written a poem for her about that problem. Then she said she was very sorry for me and she said another friend told something bad about me and it proved her true (without reading that poem, and she told it on her page). Okay, her words were, "I'm sorry if I can't be a friend like what you want, but what C*k N*r (he was also "a friend" from my senior high school era) said was true." It made my heart be broken for more. What the hell did they talk about me?

So, I wrote a message to my friend in Aussie. I told her about my struggles like that. She accepted it well and she replied my message with the very best solutions.

In her reply, she said, "Some people don't recognize themselves, so how can they recognize the others if they don't recognize themselves?" I think it's the best sentence from her reply. In the last minutes, I was thinking about her sentence. It's so deep. But, I didn't guess that I looked after my self. I did it to themselves. I tried to understand themselves. I tried to feel if I were them. I tried to see that problem from many point of views. Then, I could try to forgive my self and themselves.

I concluded, it was just the common problem. I shouldn't lose my self because of it. It's ridiculous. And I looked to the reality, we can't stick ourselves fully with any HUMAN. Every human wherever is imperfect and full of flaws. I had known it before, but there were the following things: "Some people are the victims of the mindsets from the capitalist, they are just its followers so that they can't recognize themselves, because they are covered by it. Some of them don't try to find out, they just follow without knowing what they follow is right or not for themselves. The capitalist(s) can be the religion, the government, the family, or the institution they follow."

But, I didn't blame them or proved them wrong. No. I thought, it's just their choice and I had to understand about their past and their environment, especially what they felt. It didn't matter if they realized it or not, I knew they chose it. And I had to appreciate them. So, when I knew they looked like they knew nothing about me or talked sh*t about me, I shouldn't feel hurt. It's the common thing from the people like that, and I was the imperfect too. I wanted to see it universally. The most important thing, I had to understand them without hurting my own thing(s).

Now, I'm still using it. And I have told something to my self that life is colorful. I don't have to see the problem(s) of life from black or white only, but from many colors. So, it keeps me away from being hurt and keeps me realistically for my self.


IBS
November 21st, 2009

Minggu, 01 November 2009

Tangisan Hitam

“Mungkin mentari takkan bersinar lagi di wajahku
Aku tahu
Wajahku dipenuhi dendam pada pagi yang kabur

Mungkin rembulan takkan terpancar lagi di senyumku
Aku tahu
Senyumku ternodai luka pada malam yang lebur”

Ternyata aku meratapinya
Saat semua itu belum tiba:
Dengan riang aku berjalan
Menuju candu di pesakitan

Tanah retak bukanlah keluhan
Hujan luka tidaklah sialan
Kisah senantiasa berulang
Menebarkan pengalaman

Tangisan hitam kualirkan
Pada sungai kenistaan
Berharap sampai di lautan
Deburkan ombak kearifan


(30 Juli 2009 16:49 WIB)


*) puisi ini tergolong ke dalam buku kumpulan puisi terbaru saya, yang berjudul "Merenggut Kembali Keperjakaan"

Kamis, 29 Oktober 2009

Awal Perjalanan Puisi Saya

Saya sengaja membuat tulisan ini setelah membaca salah satu note milik salah satu teman fb saya, Restu Ashari, yang menceritakan proses kreatifnya terhadap sastra (baca: puisi). Sebenarnya, saya sempat menulis catatan serupa, tapi tidak pernah jadi karena berbagai hal. Maka dari itu, saya kembali membuat tulisan semacam ini.

Saya mulai menulis puisi sejak masih SD, tepatnya kelas 4 SD. Berawal saat salah satu anak dari keluarga tetangga saya akan menikah. Otomatis, keluarga di rumah saya ikut membantu mempersiapkan hajatan pernikahannya yang akan dilangsungkan secara mewah, tepatnya di sebuah gedung besar di kota kelahiran saya, Kuningan. Anak tetangga saya itu akan menikahi seorang anak konglomerat asal kota sebelah. Di lingkungan saya waktu itu, hal tersebut cukup "fenomenal", mengingat bahwa lingkungan saya adalah lingkungan orang-orang yang tingkat ekonominya menengah ke bawah. Maka, kisah pernikahan ini seolah mirip kisah Cinderella (alah, lebay!).

Beberapa minggu sebelum dilangsungkannya pernikahan, seperti biasa, diadakanlah acara "selametan", semacam perkenalan antara keluarga kedua mempelai. Pada acara tersebut, hadirlah seluruh anggota keluarga dari sang konglomerat. Di antara mereka, ada 3 anak yang terlihat seusia saya yang hadir di sana, yang saya ketahui kemudian merupakan keponakan-keponakan dari calon mempelai anak tetangga saya itu. Mereka bertiga sama-sama gemuk dan terlihat sehat, biasa lah, namanya juga anak-anak orang kaya (setidaknya mereka terlihat amat terurus). Saya tertarik pada mereka bertiga, saya ingin sekali berkenalan dengan mereka dan kalau bisa sih menjadi teman atau sahabat pena. Dengan AMAT NORAK dan gayanya seperti anak kecil sekali (ya iya lah, toh sayanya juga masih kecil waktu itu, hahaha! =p), saya mengajak berkenalan pada mereka bertiga. Mereka menertawakan saya, seolah saya ini badut yang pantas ditertawakan. Lantas mereka pun memperkenalkan diri mereka, kita sebut saja nama mereka Bintang, Bulan, dan Kabut (maaf, saya tidak mau mencantumkan nama asli mereka, karena takut mereka bertiga "tambah GR" kalau membaca tulisan ini).

Saya pun mengajak mereka ngobrol dengan cara yang norak pula. Ah, memalukan. Untungnya, Bulan dan Kabut merespon saya dengan baik, mereka selalu tertawa bila saya berbicara. Tapi, sayangnya Bintang, tidak mau merespon saya. Ia terlihat sangat cuek sekali. Padahal, dalam lubuk hati saya yang terdalam, saya ingin sekali akrab dengan Bintang. Selain karena secara fisik dialah orang yang saya suka (jujur saja, sejak kecil, gairah seksual saya sudah nampak. Saya mimpi basah pertama kali pada saat saya masih duduk di kelas 2 SD), dia juga seusia dengan saya. Bulan dan Kabut usianya di bawah saya. Kenapa ya? Saya amat penasaran, tapi tidak begitu saya hiraukan kemudian karena saya terus melanjutkan ngobrol dengan Bulan dan Kabut.

Setelah itu, setelah berhari-hari acara selametan itu berakhir, saya jadi "kepikiran" mengapa Bintang tidak merespon saya. Akhirnya, saya meminta nomor telepon Bintang kepada anak tetangga saya itu. Saya pun menelponnya dan akhirnya berbincang-bincang dengannya. Ia sangat tidak familiar, sangat judes, dan terlihat sekali sombongnya. Ia selalu menceritakan mainan-mainan kepunyaannya dan betapa "hebatnya" sekolah yang ia tempati. Saya sama sekali tidak merasa risih atau menjadi sebal, karena saya menyukai dan ingin sekali berteman dengannya (atau bercinta dengannya? Hahaha! =p). Hampir setiap hari saya selalu menelponnya (sampai-sampai biaya telpon rumah meledak!), tapi semakin hari ia semakin merasa risih kepada saya. Akhirnya kita janjian akan bertemu, pada saat anak tetangga saya itu menikah.

Saya dan Bintang pun bertemu pada acara nikahan anak tetangga saya itu. Saya juga bertemu dengan Bulan dan Kabut. Seperti sebelumnya, Bulan dan Kabut sangat responsif terhadap saya. Dan, Bintang, sedikit memberi saya respon. Dengan amat berani, saya duduk di jajaran tempat duduk keluarga mempelai hanya untuk bergabung dengan Bulan, Bintang, dan Kabut. Orang tua saya yang sedang bantu-bantu di acara tersebut sampai memarahi saya karena tidak tahu diri. Kemudian, KETIDAKTAHUAN DIRI saya pun semakin mencuat, saya memutuskan untuk MENYANYI DI PANGGUNG dengan membawakan lagu anak-anak secara karaoke di kaset (yang sengaja saya bawa dari rumah) dan hanya sayalah satu-satunya anak kecil yang menyanyi di panggung pesta pernikahan tersebut. Tujuannya, saya ingin sekali semacam "cari perhatian" pada Bintang. Tapi, saat saya menyanyi, Bintang adalah satu-satunya orang yang paling menertawakan saya. Para tamu lainnya malah sibuk dengan urusannya masing-masing. Kabut dan Bulan memberi sorak, tapi mereka tidak terlihat menertawakan saya, tidak seperti Bintang.

Selesai menyanyi, saya dimarahi habis-habisan oleh kakak-kakak saya yang kebetulan menjadi penunggu meja buku tamu. Mereka bilang saya benar-benar tidak tahu malu. Tapi, saya tidak terlalu menggubris mereka karena mereka sudah biasa seperti itu terhadap saya. Kemudian, saya menuju pada Kabut, Bulan, dan Bintang. Kabut dan Bulan menyoraki saya dan menyebut saya "bagus" setelah saya menyanyi tadi. Tapi, Bintang.... ia mengatakan, "Kamu bener-bener nggak tahu malu. Hahaha. Kamu tuh cuma anak orang miskin...."

Kata-kata yang Bintang lontarkan itu benar-benar menyayat hati saya dan sampai saat ini tidak bisa saya lupakan. Saya ingin menangis, menangis keras saat itu. Kemudian, saya melihat bingkisan ucapan terima kasih di jajaran buku tamu. Bingkisan tersebut semacam buku diary kecil. Saya mengambilnya satu.

Setelah acara pernikahan itu selesai dilangsungkan, saya tidak pernah berhenti bersedih. Dan anehnya, rasa suka saya terhadap Bintang semakin dalam. Saya terus berangan-angan untuk bisa berteman dengannya, bisa bersamanya terus. Maka, saya tumpahkan ke dalam puisi, yang saya tulis di diary yang merupakan bingkisan ucapan terima kasih dari pesta pernikahan itu. Dari sana saya rajin menulis puisi dan isinya melulu mengenai perasaan saya terhadap Bintang.

Kakak-kakak saya mengetahui bahwa saya suka menulis puisi di diary tersebut, lalu mereka marah. Mereka merusak diary itu dan melarang keras saya untuk menulis puisi. Alasan mereka pun kurang jelas. Tapi, karena saya ini pembangkang dan pemberontak, saya masih menuliskan puisi, di buku tulis yang sengaja saya beli di warung dekat rumah. Isinya masih tentang rasa saya terhadap Bintang.

Beberapa bulan kemudian, Bintang datang lagi ke kota kelahiran saya, tepatnya ke rumah tetangga saya itu. Saya sambut dia dengan amat gembira (padahal seharusnya saya membenci dia!), tapi ia tetap bersikap sombong. Perasaan saya makin larut terhadapnya. Saya semakin menuliskan puisi tentangnya. Ternyata, saat itu adalah saat terakhir saya bertemu Bintang.

Hingga saat ini, saya belum pernah bertemu Bintang lagi. Tapi, di tahun 2008, saya mendengar kabar bahwa keluarga suami dari anak tetangga saya itu (alias keluarga Bintang juga) mengalami kebangkrutan atas usaha hotel ternama yang mereka kelola selama bertahun-tahun. Bahkan, keluarga ini sempat ditipu berkali-kali oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hotel yang mereka kelola akhirnya dijual. Tetangga saya itu pun terlihat lesu perekonomiannya. Rumah lama mereka dijual ke kakak kedua saya dengan harga yang amat murah.

Saya tidak mau menanggapi kabar-kabar tersebut.



IBS
29 Oktober 2009

Selasa, 27 Oktober 2009

Saat "Merenggut Kembali Keperjakaan" Hampir Di Depan Mata

Entah perasaan macam apa yang harus saya rasakan sekarang, atas terbitnya buku puisi terbaru saya yang tadinya diberi judul "Superbitch", lantas saya ganti menjadi "Merenggut Kembali Keperjakaan", yang akan terbit beberapa hari lagi. Senang? Bahagia? Kesal? Marah? Hahaha! Perasaan-perasaan macam itu akhirnya menjadi tidak begitu penting untuk diutarakan, karena pada kenyataannya, perasaan-perasaan macam itu akan berlalu dengan waktu, cepat atau lambat.

Sekitar pukul 21.00 WIB, tanggal 26 Oktober 2009 (alias kemarin atau tadi sih?), penerbit Ultimus mengirimkan gambar sampul "sentuhan akhir" buku puisi terbaru saya itu via e-mail. Berikut adalah gambar sampulnya:

Gambar sampul "sentuhan terakhir" buku puisi terbaru saya
yang berjudul "Merenggut Kembali Keperjakaan".

(maaf, gambar tidak bisa anda klik untuk melihat ukurannya yang lebih besar.)

Rasanya aneh saat buku ini akan terbit dalam beberapa hari lagi. Padahal, selama tahun 2008, saya sangat mendambakan buku ini terbit. Saya pun bekerja keras untuk buku ini: menulis puisi setiap hari, mengeditnya setiap hari juga, membaca buku-buku (baik itu buku puisi, novel, kumcer, filsafat, dll), membaca artikel-artikel (baik itu dari internet maupun koran), menonton berita di TV (tapi kegiatan itu saya hentikan sejak April 2009 karena saya muak dengan hampir semua program di berbagai stasiun TV Indonesia), menonton banyak film (baik itu film yang "critically acclaimed" maupun film yang sangat buruk sekalipun), menonton acara kesenian di Bandung, dll. Bahkan keseharian saya pun, semacam kuliah, makan, dan BERMIMPI saat tidur saya jadikan bahan inspirasi. Seluruh hidup saya selama proses penulisan buku ini seakan tercurahkan penuh untuk buku ini.

Terkadang, saya juga terinspirasi dari masalah pribadi saya sendiri. Tentu saja, hal itu merupakan hal yang sangat wajar, hampir semua seniman/penulis/penyair/pengarang lagu melakukan hal yang sama.

Oke, saya akan "buka kedok": salah satu puisi dalam buku ini yang sangat terinspirasi dari masalah pribadi saya adalah puisi yang berjudul "Tangisan Hitam". Puisi ini saya tulis pada tanggal 30 Juli 2009, tepatnya 5 hari setelah saya divonis terkena komplikasi diabetes di jaringan paru-paru. Saya tidak begitu merasakan kesulitan dalam menuliskannya, seakan saya memang benar-benar 100% curhat di puisi tersebut. Padahal, saat saya baca ulang, maknanya bisa luas kemana-mana dan seolah saya tidak sedang curhat.

Karena kelancaran dalam menuliskannya, puisi ini pun tidak banyak saya olah ulang. Tidak seperti kebanyakan puisi yang sudah saya tulis sebelumnya untuk buku ini, di mana saya melakukan "proses penyaringan" yang cukup ketat dan terus berkali-kali. Puisi "Tangisan Hitam" ini sama sekali tidak seperti itu, saya merasa puisi ini sudah cukup "pas" tanpa harus mengalami pengeditan berkali-kali. Puisi ini hanya saya koreksi 2 kali, dengan mengedit dua kata agar lebih padat.

Puisi "Tangisan Hitam" ini pun merupakan puisi yang paling saya sukai dari semua puisi yang ada di buku ini. Selain karena prosesnya yang cukup lancar, saya juga merasa "kena" dengan puisi ini. Puisi ini seolah mencerminkan sekali diri saya saat saya menuliskannya, di mana saya merasakan kepedihan yang mendalam atas komplikasi diabetes yang saya idap, yang sebelumnya dikatakan dokter sebagai komplikasi diabetes yang langka, karena menjangkit paru-paru. Tapi, seperti yang saya katakan sebelumnya, ternyata puisi ini juga maknanya bisa ke mana-mana. Tergantung seperti apa interpretasi pembacanya.

Puisi "Superbitch", yang merupakan puisi yang paling panjang yang ada di buku ini, proses mendapatkan inspirasinya cukup "lucu" dan "aneh". Puisi tersebut terinspirasi saat saya bertemu dengan seseorang setelah saya kabur dari terapi depresi di sebuah rumah sakit di Bandung pada Februari 2008. Puisi tersebut tadinya diberi judul "Super Jalang", yang akhirnya masuk nominasi 30 besar puisi pilihan juri pada Lomba Menulis Puisi berbahasa Sunda, Jawa, Melayu/Betawi, dan Indonesia yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat pada tahun 2008.

Lho? Kenapa tiba-tiba perut saya lapar? Sekarang sudah menunjukan pukul 00:45 WIB. Gaya hidup saya kembali berubah menjadi TIDAK BAIK. Biarlah, cukup untuk sejenak, saya harap untuk ke depannya tidak seperti ini lagi. Oke, nanti saya akan lanjutkan lagi "bercerita"-nya. Saya mau turun ke bawah dan makan.



IBS
27 Oktober 2009 00:46 WIB

Senin, 26 Oktober 2009

Gambar-Gambar (atau Foto-Foto?)




Catatan Di Suatu Malam

Mungkin ada baiknya bila saya tidak membaca buku-buku sastra yang "berat". Mungkin ada baiknya bila saya tidak banyak belajar dari para sastrawan/penyair senior. Mungkin ada baiknya bila saya tidak terlalu larut dalam kisah sejarah yang entah berisi kebenaran yang ada ataupun rekayasa belaka. Mungkin ada baiknya bila saya tidak mempelajari filsafat sampai ke dalam-dalamnya, yang belum sesuai untuk seusia saya ataupun kemampuan berpikir otak saya, walau banyak sekali di antara mereka, kaum intelek, yang selalu mengatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang memaksimalkan penuh fungsi otaknya dengan banyak membaca mengenai filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya.

Mungkin ada baiknya bila saya tidak mengetahui masa lalu saya yang sebenarnya. Mungkin ada baiknya bila saya tidak menyadari seperti apa kondisi keluarga saya yang selama ini ditutupi semua orang. Mungkin ada baiknya bila saya tidak mengenali diri saya yang sebenarnya. Mungkin ada baiknya bila saya menginginkan hal-hal yang belum saya capai tapi rasanya tidak bisa saya capai dengan kenyataan yang ada pada diri saya saat ini. Mungkin ada baiknya bila saya tidak berpikir dewasa mengenai berbagai hal. Atau mungkin ada baiknya bila saya TIDAK MEMIKIRKAN APAPUN.

Saya seorang pengidap diabetes mellitus tipe 1. Saya seorang transgender. Saya seorang agnostik. Saya seorang aseksual. Empat hal yang saya akui tersebut, di mata segelintir orang di sekitar saya merupakan hal-hal yang amat menyedihkan dan pantas dijadikan "bahan" untuk mendiskriminasi saya. Tak perlu saya jelaskan mengapa semua itu bisa terjadi, baik itu berupa penjelasan mengenai pembelaan (yang berbau-bau pandangan objektif, walau tetap saja pandangan subjektif menjadi tai yang memberi bau yang lebih menyengat) atau menyalahkan pendapat mereka tersebut dengan atau tanpa dilandasi opini yang kuat (seperti apakah opini yang kuat? Bagi saya, setiap opini pasti bisa dilemahkan dengan berbagai cara, bahkan dengan cara paling anarkis sekalipun). Saya sudah bosan dengan berbagai alasan, sugesti, pembelaan, penyalahan, dan segala hal mengenai diri saya maupun orang-orang di sekitar saya. Saya ingin merasakan kedamaian, tapi BUKAN kedamaian yang diciptakan dari luar, melainkan dari diri saya sendiri tanpa saya banyak berpikir. Tapi, kadang saya juga bertanya-tanya sendiri, apa yang selama ini saya pikirkan? Jangan-jangan tidak ada hal yang saya pikirkan.

Mungkin ada baiknya juga bila saya tidak melihat kehidupan orang lain dari berbagai sisi. Mungkin ada baiknya juga bila saya hanya melihat diri saya dari sisi yang saya inginkan. Mungkin ada baiknya juga bila saya mencintai siapapun tanpa mencintai siapapun. Mungkin ada baiknya juga bila saya mencintai diri saya tanpa mencintai diri saya sendiri. Mungkin ada baiknya juga bila saya ingin merasa bebas tanpa ada kebebasan. Dan, mungkin ada baiknya juga bila saya mengekang kebebasan tanpa mengekang kebebasan.

Mati saja. Itu lebih baik, bukan? Tidak. Kematian bukanlah jawaban dari segala pertanyaan, bagi siapa saja. Benarkah? Saya juga tidak tahu karena sampai detik ini saya belum mengalami kematian. Dan semua referensi mengenai "hal-hal setelah kematian" adalah hal yang tidak begitu saya percayai dan yakini, apalagi dijadikan referensi hidup saya. Refensi hidup saya? Memangnya apa referensi hidup saya? Catatan-catatan? Pengalaman-pengalaman? Film-film? Lagu-lagu? Ah, apakah semua itu merupakan referensi hidup?

Oke, saya akan menyebutkan hal-hal yang ada di pikiran saya saat ini dan (mungkin saja selama ini) hal-hal yang sering saya pikirkan (ini acak, bukan diurut):

Puisi, Lagu, Sastra, Pacar Khayalan, Penyair idola saya, Kokom (nama komputer jadul saya), Seks, Tidak mau berhubungan seks, Tidur, Pipis terus, Cinta (?), Saudara jauh saya yang berinisial U, Komplikasi diabetes yang saya idap di jaringan paru-paru, CD, Kaset, Buku, Makan coklat, Makan Mie Goreng, Kipas angin, Tape recorder yang besar dan mahal, Film-film yang semi-porno, Masturbasi, Orang yang berpikiran sempit (alias bodohnya minta ampun) tapi berfisik bagus hanyalah mayat hidup menawan yang ingin saya bunuh lalu saya perkosa.

Gila? Hahaha! Memangnya siapa yang mengakui bahwa saya ini waras selama saya hidup? Mereka bisa saja berkata bahwa saya masih waras dengan mulut mereka, tapi mereka juga bisa saja mengatakan bahwa saya benar-benar gila dengan hati mereka. Manusia macam apa yang tidak bisa berbohong sedikitpun? Bayi? Lha? Kok ke bayi sih? Nabi? Oke, kalau memang nabi, siapa yang bisa membuktikannya secara konkret? Bukan dari kitab suci atau hadist-habist atau dongeng-dongeng saja? Ayo, siapa? Atau pernahkah di antara kalian (yang membaca tulisan ini) bertemu dengan nabi secara langsung di dunia nyata dan tahu dengan pasti bahkan bisa membuktikannya dengan fakta-fakta otentik bahwa nabi benar-benar tidak bisa berbohong sedikitpun?

Sudahlah, jangan dibahas lagi. Nanti saya dikira telah "mencoba menggoyahkan" keimanan orang lain. Hahaha! Bodoh sekali orang yang mengira saya telah "mencoba menggoyahkan" keimanan orang lain. Tapi, tidak apa-apa lah. Kalau di dunia ini semuanya orang pintar, mana mungkin di dunia ini indah? Ya, bisa saja. Kenapa tidak? Bukankah segelintir orang sering menafsirkan bahwa hal yang baik-baik (termasuk orang-orang pintar) SELAMANYA TANPA TERKECUALI itu indah? Seperti surga? Hahaha! Semoga selalu ada surga dan neraka bagi saya.

Ya, saya akan menuliskan kisah. Mungkin merupakan kisah paling menjijikkan yang pernah saya tulis. Di blog ini, tapi entah dipublikasikan secara cepat ataupun lambat. Mungkin saya akan merasa menyesal pernah menuliskan tulisan macam ini di blog ini, atau mungkin saya tidak akan menyesal. Menyesal atau tidak menyesal, tidak ada bedanya. Yang berbeda hanyalah tanggapan saya sendiri mengenai apa yang rasakan dan sikap apa yang harus saya lakukan setelahnya.


IBS
26 Oktober 2009 03:09 WIB


(ucapan terima kasih kepada Todd yang sempat mengobrol sejenak dengan saya di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) menggunakan bahasa Inggris karena dia berasal dari Belanda, Asep Sambodja yang telah menulis note di akun facebook kepemilikannya mengenai hal yang paling memusingkan kepala saya tapi sangat saya sukai karena isinya lumayan bagus (ingat! "Lumayan" bagus!), dan Rezza Artamevira yang menyanyikan sebuah lagu barunya dengan amat membosankan di telinga saya tapi kenapa juga saya selalu memutar lagu tersebut?)