Jumat, 2009 Juni 12

Northern Star

Melanie Chisholm, salah satu anggota "female group" asal Inggris bernama Spice Girls yang meraih sukses dalam segi penjualan pada 2 album pertama mereka di seluruh dunia - tapi dinilai tidak sepadan dengan kualitas musiknya, meriliskan album solo perdananya di tahun 1999, tepatnya pada bulan Oktober 1999. Album solo perdananya itu diberi judul "Northern Star". Hadirnya album solo perdana Chisholm ini sempat menjadi "spekulasi" bahwa Chisholm melakukan persaingan dengan mantan anggota Spice Girls yang saat itu hengkang dari Spice Girls dengan tiba-tiba dan mengeluarkan album solo perdananya pula yang diberi judul "Schizophonic", Geri Halliwell - sedangkan Chisholm yang walaupun mengeluarkan album solo tidak sampai meninggalkan Spice Girls.

Bila saya bandingkan, jelas-jelas kualitas musik pada album "Northern Star" lebih berkelas daripada "Schizophonic" - walaupun "Schizophonic" tidak begitu mengecewakan. Kualitas musik Chisholm di album "Northern Star" penuh dengan unsur "techno", "rock", sampai sedikit "nge-jazz" yang membuatnya terkesan berkelas. Dengan ini, Chisholm pantas saja dijuluki "Indie Spice" oleh situs All Music Guide karena bisa membuat musik yang jelas-jelas berbeda dari gaya musik Spice Girls yang terkesan "bubblegum pop".

Seperti pada lagu "Suddenly Monday", lagu yang durasinya paling sebentar dari 12 lagu di album "Northern Star" (hanya 2 menit 37 detik) terasa ada percampuran antara pop dance dan jazz yang sempurna. Kemudian, lagu "Why" yang "nge-pop" dengan nuansa lirih dan kelam menjadikannya sebagai lagu yang paling berhasil dalam album tersebut. Belum lagi single-single pada album tersebut, seperti "Going Down", "Northern Star", "Never Be The Same Again", "I Turn To You", dan "If That Were Me" yang merupakan pilihan yang cukup pas untuk dijadikan single. Terbukti dengan kelima-limanya masuk di posisi 20 besar pada tangga lagu Inggris ("Never Be The Same Again" dan "I Turn To You" meraih posisi pertama, "Going Down" dan "Northern Star" meraih posisi keempat, serta "If That Were Me" yang meraih posisi ke delapan belas).

Dengan kualitas musik yang baik dan terasa sempurna, wajar saja bila penjualan album "Northern Star" lebih sukses dibandingkan album "Schizophonic". Di Inggris sendiri, "Northern Star" meraih sertifikat "triple platinum" dengan penjualan sebanyak 900.000 keping, sedangkan "Schizophonic" hanya meraih serfifikat "double platinum" dengan penjualan sekitar 600.000 keping. Sedangkan untuk penjualan di seluruh dunia, Chisholm juga benar-benar mengalahkan Halliwell. "Northern Star" dilaporkan terjual 3 juta keping dan "Schizophonic" hanya terjual 2.5 juta keping.

Sejak album kedua Spice Girls rilis di tahun 1997, yang berjudul "Spice World", Chisholm disebut-sebut sebagai personil Spice Girls yang paling berbakat. Secara kualitas vokal, Chisholm memang yang paling menonjol. Walau terkesan "cempreng", tetapi ia bisa mengimbanginya pada setiap lagu yang ia nyanyikan, sehingga suaranya yang "cempreng" itu malah terasa enak didengar dan jelas-jelas bisa mencapai oktaf yang cukup tinggi. Begitu pula pada kualitas vokal Chisholm pada album "Northern Star". Selain musiknya yang berkualitas, kualitas vokal Chisholm pun benar-benar meyakinkan - majalah Rolling Stone memberi predikat "Gifted Spice" atas kualitas musik dan vokal Chisholm atas album solo perdananya itu.

Walau demikian, saya menyayangkan sekali kualitas lirik pada album "Northern Star". Kualitas musik yang oke, kualitas vokal Chisholm yang prima, ternyata tidak sepadan dengan lirik-lirik pada beberapa lagu dalam album solo perdananya itu. Menurut saya, ada lirik terkesan cengeng - mungkin karena Chisholm menujukan pasarnya pada remaja, tapi apakah remaja harus selalu bercengeng ria? Seperti pada lagu "Why" yang saya sebutkan tadi sebagai lagu yang secara musik paling berhasil. Lirik pada lagu tersebut terdengar sangat cengeng, contohnya pada bagian: "Why am I crying over you? Why? 'Cos there's nothing else that I can do. Why do I always look a fool? Why?". Lalu, pada lagu "Be The One". Lagu yang bisa membuat kita santai apalagi mendengarkannya, tetapi tetap saja memiliki lirik yang cengeng pula: "Telling me that you're the one. I'm tired of the lies.".

Khususnya pada lagu "Why", jujur saja, itu yang paling saya sayangkan. Nada/musik pada lagu tersebut bernuansa kelam dan seperti memendam kesedihan yang dalam serta tidak bisa terobati, kenapa pula harus selalu didukung dengan lirik lagu yang sangat cengeng? Apakah ketika kita dilanda kesedihan lantas kita harus selalu menjadi sangat cengeng? Bila saya boleh memberikan perbandingan (lagi), lagu "Scatterheart" yang dibawakan oleh Bjork nuasa kelam dan lirihnya lebih terasa daripada lagu "Why", tetapi lirik pada lagu "Scatterheart" sama sekali tidak terasa cengeng. Lagu "Scatterheart" malah terkesan "menerima kesedihan dengan penuh kebersahajaan tanpa ada rasa pesimis sekalipun" (untuk mengetahui lirik lagu tersebut, silahkan kunjungi situs Bjork.com, dengan mengklik Lyrics -> OST. Dancer In The Dark --> Scatterheart). Tidak seperti lagu "Why" yang liriknya terkesan merengek-rengek sambil menangis agar bisa "mendapatkan apa yang diinginkan".

Tapi, hal tersebut mungkin masih bisa "ditolelir". Ada sebagian orang yang tidak mempedulikan lirik lagu, melainkan nada/musik pada lagu yang didengarkan. Musik tetaplah musik, dan bukankah lirik lagu pun salah satu dari hal yang terpenting dalam musik (yang bukan instrumen)?



Rating for "Northern Star": 3 Stars*

)* This is it:

1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars : Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars : Not Bad (Lumayan)
4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars: Very Good!!! (Sangat Bagus!!!)

Kamis, 2009 Mei 28

Dancer In The Dark

Sejak saya menjadi penggemar Bjork, saya sempat penasaran dengan film "Dancer In The Dark" (2000) yang akan saya bahas ini, karena Bjork bermain sebagai pemeran utama dalam film tersebut. Walau demikian, saya sempat berpikir, sepertinya fenomena penyanyi/musisi menjadi aktor/aktris atau terjun ke dunia akting/film sudah sangat biasa - yang kebanyakan terlihat seperti 'aji mumpung' untuk mengembangkan karir bagi sang penyanyi/musisi, alias kurang bisa memberi nuansa yang lebih. Kalau boleh saya ambil contoh, semisal Whitney Houston, yang bermain dalam film "The Bodyguard" (1992). Walau film tersebut sukses besar secara finansial, tetapi kualitas akting Houston kurang bisa diperhitungkan. Houston dinilai sebagai 'pelengkap' saja dalam akting. Ia lebih condong ke pengisi soundtrack yang membuat film debut aktingnya itu semakin sukses di pasaran. Lalu, contoh lain, Eminem yang bermain dalam film debutnya yang berjudul "8 mile" (2002). Walau film tersebut sukses pula (salah satu lagu soundtrack-nya yang ditulis oleh Eminem, berjudul "Lose Your Self" mendapatkan penghargaan Oscar dan satu-satunya lagu rap yang meraih penghargaan Oscar untuk kategori lagu soundtrack terbaik), tetapi akting Eminem tidak begitu berpengaruh banyak. Ia seolah bermain sebagai dirinya sendiri, tidak ada tantangan lain.

Dua contoh yang saya sebutkan tadi bisa terbilang sukses yang membuat sang penyanyi/musisi semakin berkembang karirnya, karena masih ada contoh lain yang "lebih buruk" dari itu - membuat sang penyanyi/musisi malah semakin merosot karirnya akibat aji mumpung ke dunia akting/film. Yang paling disorot mengenai hal ini adalah Mariah Carey. Film debut aktingnya yang berjudul "Glitter" (2001) dicaci maki kritikus dan gagal dalam segi finansial. Apalagi akting Carey, ia dinobatkan sebagai aktris terburuk dalam ajang Razzie Awards atas filmnya itu. Selain itu, karir Carey sebagai musisi pun merosot: soundtrack film "Glitter" yang digarap pula oleh Carey mengalami penjualan yang buruk sehingga Carey "dipecat" dari perusahaan rekamannya saat itu. Tapi, bagi saya pribadi, setelah menyaksikannya, Bjork begitu lain dalam film "Dancer In The Dark" ini. Ia tidak terlihat seperti sedang melakukan aji mumpung yang hanya bertujuan untuk mengembangkan karirnya, ia malah sangat total dalam berakting dan menggarap soundtrack.

Film musikal yang disutradarai oleh Lars von Trier ini menceritakan Selma (Bjork), seorang imigran asal Cekoslovakia, yang pindah ke Washington, Amerika Serikat, bersama anak semata wayangnya, Gene. Di Washington, Selma bekerja sebagai pegawai pabrik bersama sahabatnya, Cvalda. Dalam beberapa waktu terakhir selama bekerja, Selma mengalami gangguan penglihatan. Ternyata, Selma terancam akan mengalami kebutaan, begitu pula anaknya, Gene - yang mana mereka berdua sama-sama memakai kacamata tebal dan mengalami gangguan penglihatan yang sama.

Hal ini sangat mengganggu aktifitas Selma, karena selain bekerja di pabrik, Selma pun sedang menggarap drama musikal bersama rekan-rekannya sesama aktifis teater. Walau demikian, sepertinya Selma sudah menyadari ancaman kebutaan yang akan dihadapi olehnya dan anaknya jauh-jauh hari. Terbukti dengan uang tabungan yang selama ini ia kumpulkan untuk operasi mata, tapi bukan untuknya, melainkan untuk anaknya, Gene.

Selma yang juga menyewa rumah kontrakan milik Bill, yang merupakan seorang polisi, dan istrinya, Linda, menceritakan ancaman kebutaannya ini kepada Bill. Faktor pemicu Selma menceritakannya karena Bill entah kenapa pada larut malam tiba-tiba mendatangi kediaman Selma dan "curhat" masalah pribadinya, yang akhirnya Selma pun "curhat balik". Tetapi, Bill malah memiliki rencana jahat.

Bill pun mengetahui di mana Selma menyimpan uang tabungannya untuk biaya operasi anaknya - karena Selma tidak menyimpannya di Bank, melainkan di sela-sela tembok rumahnya. Bill bisa mengetahuinya karena 'mengintip' tanpa disadari Selma setelah mereka "bercurhat ria" di malam larut itu. Saat Selma bekerja, Bill mencurinya. Tentu saja, ketika Selma merasa kehilangan uang tabungannya itu, pikirannya langsung tertuju pada Bill.

Konflik demi konflik pun terus berdatangan setelah itu. Dan penggarapan film ini amat mengagumkan, pengemasan konfliknya terasa amat nyata, tidak terlihat didramatisir sama sekali. Semuanya mengalir apa adanya. Menurut saya, mungkin karena teknik pengambilan gambar di film ini, yang bergaya Dogme 95 - seperti hanya menggunakan kamera handycam biasa yang digenggam tangan, tidak menggunakan alat lain agar gambar tidak mengalami pergeseran-pergeseran - sehingga bisa terlihat tidak didramatisir. Tapi, itulah yang membuat film ini menjadi sangat istimewa - semuanya terlihat tidak direkayasa.

Akting Bjork pun sangat baik. Beberapa adegan menangis bisa ia hayati baik-baik, bahkan Bjork terlihat bukan sedang berakting menangis, melainkan sedang benar-benar menangis. Belum lagi ekspresi wajahnya ketika ia menyanyikan lagu-lagu soundtrack dalam film ini, sungguh ia menguasai materinya. Khususnya, pada saat ia menyanyikan lagu "Scatterheart", setelah Selma membunuh Bill, ekspresi wajahnya yang menatap kelam kehidupan bisa terasa amat jelas. Kerapuhan dan kesedihan yang amat perih bisa terasa benar-benar nyata dalam akting Bjork yang menawan selama memerankan tokoh Selma ini.

Masih banyak lagi kehebatan Bjork dalam aktingnya di film ini. Maka dari itulah, saya bisa menilai Bjork memang berbeda. Ia bergerak dengan total dan tidak asal-asalan. Pantas bila ia mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik dalam Festival Film Cannes atas aktingnya di film ini. Selain itu, lagu-lagu soundtrack dalam film ini pun berbeda - seolah digarap untuk film musikal yang amat berkualitas, selain juga tetap menjaga kekhasan Bjork dalam menggarap musik yang terkesan unik. Luapan emosi dan perih yang mendalam amat terasa dalam setiap nada yang mengalun dan lirik yang mendukungnya. Yang saya favoritkan adalah lagu "Scatterheart", "107 Steps", "In The Musical", dan "New World". Khususnya "Scatterheart", bagi saya lagu tersebut amat lirih dan kelam. Mungkin sejauh saya menikmati berbagai jenis musik/lagu selama ini, lagu tersebut merupakan lagu paling lirih dan paling kelam yang pernah saya dengar.

Bagi sebagian orang, mungkin akan menganggap film ini "aneh": apalagi bila melihat teknik pengambilan gambarnya. Tetapi, secara keseluruhan, kualitas film ini patut diacungi jempol, khususnya pada akting Bjork dan penggarapan soundtrack. Bila anda penggemar film musikal dan ingin mencari film musikal yang berbeda - dengan kualitas tinggi tentunya, film ini adalah pilihan paling tepat. Apalagi bagi anda yang menjadi penggemar Bjork, film ini patut ditonton. Selain itu, film ini banyak memberi pesan mengenai kemanusiaan. Salah satu yang bisa saya ambil adalah "kebenaran tak bisa dilihat hanya dengan kasat mata".




Rating for "Dancer In The Dark": 5 Stars*

)* This is it:

1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars : Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars : Not Bad (Lumayan)
4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars : Very Good!!! (Sangat Bagus!!!)

Sabtu, 2009 Mei 23

Untuk Teman Di Masa Kecil

Halo, apakabar? Apakah malam ini kau sudah tidur? Mungkin saja, aku tak bisa memastikannya. Karena aku di sini, di dalam duniaku yang sudah kusinggahi sekian lama, setelah berpisah denganmu. Entah di mana kau saat ini: di mana duniamu saat ini. Yang aku tahu, aku pernah menatap wajahmu sekali lagi, di dunia maya ini. Bila kuperhatikan, ternyata banyak yang telah berubah. Wajar saja bukan? Semua orang telah berubah. Zaman telah membuatnya demikian. Masa lalu terasa sekedar pemanis ingatan, itupun bila ingin diingat sewaktu-waktu.

Apakah kau masih ingat dulu? Ketika kita masih menjalin kisah bersama? Sekitar belasan tahun yang lalu, saat kehidupan belum begitu jauh kita langkahi. Kita saling bergenggaman tangan, merangkai cerita demi cerita dalam keluguan, dalam kelucuan, dalam kebersahajaan. Kita tertawa, menangis, dan marah dengan hembusan lembut waktu seperti angin sepoi yang membelai kulit di sore yang cerah. Wajahku tersenyum padamu, wajahmu tersenyum padaku. Sinar mentari terasa sungguh bersahabat kala menerangi jalan yang kita tempuh bersama, tak seperti saat ini: menyengat dan merusak, ia telah menjadi beringas. Mungkin karena ia merasa kehilangan kita. Ya, kehilangan keindahan nan bersahaja dalam kisah masa kecil kita.

Kini, kita sudah beranjak dewasa dan sudah sekian lama kita berpisah karena arus kehidupan, yang mau tidak mau telah membawa kita sampai saat ini. Kita seolah hanya pasrah: membiarkan kenangan demi kenangan yang indah itu hanyut dan sirna. Dan aku masih di sini, menetap dalam duniaku, kau juga masih di sana, menetap dalam duniamu. Mungkin sekilas bayangku masih ada di sana, mungkin juga sudah tidak ada, begitu pula bayangmu di duniaku. Tapi, kini bayangmu tiba-tiba menghampiri duniaku, membukakan memori yang telah lama terkubur oleh banyak peristiwa. Membuatku tersenyum, menitikkan air mata, dan merenung: mengapa kenangan bisa membuat kita tenggelam ke dalam rasa, sedangkan kehidupan hanya akan menertawakannya bila kita tak bisa kembali ke permukaan realita?



IBS
(23 Mei 2009 02:53 WIB)

Kamis, 2009 Mei 21

Revolutionary Road

Wah, sudah cukup lama saya tidak meresensi film dalam blog pribadi saya ini. Maklum, akses "blogging" saya "berpindah" ke situs facebook, yang memang saat ini sedang banyak digandrungi dan memiliki banyak fitur - yang membuat saya berpikir bahwa "blogging" di situs facebook lebih efektif dan mudah mendapatkan respon daripada di sini. Tapi, kali ini saya kembali akan meresensi film di blog pribadi saya ini. Alasannya? Setelah saya membaca review-review film yang ditulis oleh mba Tarlen di blog pribadinya, saya tergoda untuk meresensi film lagi di blog pribadi saya ini. Hehehe, (^_^)

Film yang saya resensikan kali ini adalah "Revolutionary Road" (2008), film yang disutradarai oleh Sam Mendes, dengan pemeran utamanya dimainkan oleh Kate Winslet dan Leonardo DiCaprio. Film ini semacam "reuni" dari duet Winset dan DiCaprio, yang mana mereka berdua pernah beradu akting dalam film legendaris garapan James Cameron, "Titanic" (1997). Bila dalam film "Titanic", duet akting mereka terasa "remaja", maka dalam film "Revolutionary Road" ini duet akting mereka terasa amat dewasa dan matang.

Bersettingkan tahun 50-an, film ini menceritakan pasangan suami istri, Frank (DiCaprio) dan April (Winslet), yang mengalami kejenuhan dalam kehidupan rumah tangga mereka berdua. Mereka merasa hidup di kota New York yang menurut mereka 'payah'; Frank yang merasa tidak senang bekerja di perusahaan yang bernama Knox; dan April yang bosan menjadi ibu rumah tangga dan merasa gagal menjadi aktris teater. Akibat kejenuhan tersebut, April memiliki ide cemerlang untuk merubah segalanya: pindah dan menetap di Paris. Awalnya, Frank tidak begitu menyetujui ide cemerlang April itu. Namun, setelah dibujuk dengan berbagai alasan yang cukup logis dan menjanjikan, Frank pun menyetujuinya. Mereka berdua, termasuk kedua anak kandung mereka, memutuskan akan pergi dan menetap di Paris 12 minggu setelah keputusan itu 'disepakati' oleh mereka sekeluarga.

Hal ini sempat membuat rekan-rekan Frank maupun April keheranan. "Ide yang kekanak-kanakan", begitu kata Shep, tetangga Frank dan April. Walau demikian, baik Frank maupun April tetap mantap dengan keputusan tersebut. Tetapi, semakin hari keputusan mereka untuk pindah ke Paris mengalami banyak ganjalan, mulai dari tawaran pekerjaan yang lebih menghasilkan uang untuk Frank, April yang tiba-tiba hamil, dll. Di sinilah konflik dalam film ini mulai memanas.

Pertengkaran demi pertengkaran antara Frank dan April kian berdatangan. Akting DiCaprio dan Winslet benar-benar 'mengagumkan' saat konflik demi konflik berlangsung: Chemistry-nya dapat. Saya yakin, penonton akan merasakan emosi mendalam pada kedua karakter tersebut dari akting brilian DiCaprio dan Winslet. Khususnya akting Winslet, secara pribadi, inilah yang membuat saya benar-benar terkesima akan film ini: membuat saya merasakan perih yang mendalam atas April. Sosok April yang sangat revolusioner mendapatkan ganjarannya sendiri. Benar-benar mengharukan.

Film ini adalah film kedua yang menguras emosi saya habis-habisan setelah film "The Pianist" (2002) yang saya tonton di tahun 2006. Setelah menonton film "The Pianist", saya tidak bisa berhenti marah-marah dalam 1 minggu (saya sungguh salut pada sutradaranya, Roman Polanski). Sedangkan setelah menonton film "Revolutionary Road" ini, saya merasakan kesal dan sedih yang mendalam. Saya sudah banyak menonton film-film critically acclaimed yang bisa menguras emosi - yang terlalu banyak bila saya sebutkan satu per satu di sini, tapi hanya "The Pianist" dan "Revolutionary Road"-lah yang bisa 'total' menguras emosi saya habis-habisan. Ya, seakan memiliki kesan tersendiri dalam hati saya.

Overall, film "Revolutionary Road" ini wajib ditonton, khususnya oleh ibu-ibu rumah tangga. Jujur saja, film ini mengingatkan saya pada seseorang yang sungguh saya sayangi: kehidupan rumah tangganya mirip dengan kisah dalam film ini. Semoga ia bisa menonton film ini suatu saat nanti dan semoga ia akan menemukan kesadaran baru dalam pemikirannya - yang saya lihat begitu menyiksanya walau ia menyadarinya.



Rating for "Revolutionary Road": 5 Stars*

)* This is it:

1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars : Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars : Not Bad (Lumayan)
4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars : Very Good!!! (Sangat Bagus!!!)

Sabtu, 2009 Maret 21

Mengenai Lelaki Bajingan*

Di alam kematian, ia berkata pada tuhannya, “Tuhan, aku sudah melakukan segala perintahMu. Aku menjalani semua peribadatan demi menuju pintuMu. Semuanya terbukti sudah. Terimalah semua itu, ya Tuhan. Dan aku sungguh bahagia berada di sisiMu.”

Lalu, dengan senyum yang sinis, tuhan berkata, “Enyahlah kau dari hadapanKu. Aku tak sudi kau dekati Aku. Aku tak akan pernah menyukai insan yang berlari dari realitas hidupnya. Aku sangat tahu, selama ini kau melakukan peribadatan dan taat pada ajaranKu hanya karena kau merasa hidupmu menderita, dan kau menyangka dengan beribadah seperti itu bisa memberi bahagia di kehidupan selanjutnya? Kau simpan di mana otakmu? Mungkinkah kau tak tahu bahwa pelarian yang kau lakukan itu tidak bisa dikatakan baik? Apakah kau menyadari itu? Tidak ada ketulusan seutuhnya padamu. Maka, enyahlah engkau dariKu!”

Ia termenung dan terkejut dalam kesedihan, “Tuhan, apa yang Kau maksud? Berarti...”

“Ya, pergilah engkau dariKu. Atau aku yang akan menghilang dariMu.”, kata tuhan sambil menghilangkan dirinya. Di alam kematian itu, ia terkejut kembali dengan menghilangnya tuhan dari hadapannya sendiri. Lalu ia tinggal sendiri, di ruang yang begitu kosong, tidak ada siapa-siapa, bahkan hitam kelam yang serasa tiada ujung menuju putih. Dan tuhan tiada kembali selamanya.



IBS
(20 Maret 2009 14:57 WIB)


*) tulisan kisah ini sebenarnya masih sangat “draft” sekali. Terinspirasi dari cerpen “Robohnya Surau Kami”, karya A.A. Navis yang menjadi cerpennya yang paling terkenal yang mengangkatnya menjadi sastrawan penting di Indonesia (dan merupakan cerpen terfavorit saya tentunya!).

Rabu, 2009 Februari 25

Top Gear

Tanpa kehadiran grup yang bernama Top Gear ke dalam hidup saya, mungkin hingga saat ini saya tidak akan pernah membukukan puisi-puisi saya. Grup yang beranggotakan Alfat, Peri, Cak Nur, dan saya tentunya memiliki arti tersendiri dalam setiap puisi yang saya bukukan selama ini. Dan kisah Top Gear ini selalu saya ingat.

Juli 2003, di mana kisah ini dimulai. Saya begitu bahagia bisa diterima di sebuah SMA “yang katanya” terfavorit di kota kelahiran saya. Bagaimana tidak? Selain semacam merasa menyandang “predikat” sebagai siswa di sebuah sekolah favorit, perjuangan saya untuk masuk ke sana cukup berat. Di kelas 3 SMP, saya harus benar-benar berjuang keras dalam hal belajar (karena saya memang sangat pas-pasan sekali dari semenjak awal masuk SMP) dan saya harus berjuang keras menghadapi segala rintangan yang ada di kelas 3 SMP saya. Selama di kelas 3 SMP, hampir setiap hari saya diganggu dan disiksa oleh kelompok berandal kelas saya. Buku pelajaran saya dirusak, pulpen dan pensil saya dibuang, muka saya dilempari timbunan sampah, bulu kaki saya dibakar, dan masih banyak lagi rintangan yang saya hadapi di sana. Aduh, kok bisa sampe sebegitunya sih? SMP saya sebenarnya SMP terfavorit juga di kota kelahiran saya, tetapi kebetulan sekali semua anak-anak bermasalah berkumpul di kelas saya. Dan penyebab utama saya dibegitukan mungkin karena saya tidak begitu mau bergabung dengan kelompok berandal tersebut dan tidak cocok dengan gaya mereka.

Dengan perjuangan yang cukup keras, saya pun meraih impian saya. Sungguh bahagianya saya saat itu (dan rasa bahagia itu masih bisa saya rasakan hingga detik ini walaupun terkesan berlebihan ya? hehe). Saat mimpi indah itu menjadi nyata, saya pun dipertemukan dengan 3 orang sahabat yang mana mereka adalah grup Top Gear: Alfat, Peri, dan Cak Nur. Kebetulan kami semua berada dalam satu kelas, hingga kisah pun terus berlanjut (alah... kayak film aja, hehehe).

Awalnya, saya merasa biasa-biasa saja berteman dengan mereka bertiga. Mereka bertiga memang satu SMP dengan saya tapi tidak begitu saya kenal. Jadi, rasanya biasa saja berteman dengan teman satu SMP di SMA yang sama. Namun, hingga suatu ketika, 3 hari setelah MOS (masa orientasi siswa), sebuah kejadian yang membuat saya terharu pun terjadi.

Saat itu, tidak ada guru yang mengajar di kelas. Kami berempat duduk di bangku kami yang memang berdekatan dan memulai obrolan yang berkaitan dengan kenangan di kelas 3 SMP. Satu per satu dari kami pun menceritakan kisah-kisahnya, yang memang lucu dan seru. Dan ketika giliran saya, saya enggan menceritakan, karena kisah saya sungguh menyedihkan dan tidak seru. Tapi, mereka memaksa saya agar menceritakannya, hingga saya terpaksa menceritakan semuanya.

Saya pun menceritakannya dengan tanpa melebihkan dan sungguh apa adanya. Diluar dugaan, saya melihat reaksi mereka: Peri melongo seakan kaget, Cak Nur berkaca-kaca, dan Alfat marah-marah sambil mengatakan, “Naha atuh maneh teu pindah ka kelas 3 A? di 3 A kan aya urang jeung si Peri. Maneh meureun moal samenderita kawas kitu!” (Kenapa kamu tidak pindah ke kelas 3 A? di 3 A kan ada aku dan si Peri. Kamu mungkin tidak akan semenderita itu!). Mengetahui reaksi mereka seperti itu, saya terharu dan saya mengatakan, “Mungkin karena aku memang terlihat aneh dan nyentrik yang membuat mereka begitu sama aku. Tapi, adilkah bisa harus sampai dibegitukan? Mmm... biarlah, semua itu kan udah lewat.”

Sejenak mereka bertiga terdiam dan akhirnya mereka berkata, “Man, pokokna mun maneh bareng jeung arurang, maneh moal ngarasakeun kitu deui.” (Man, pokoknya kalau kamu bareng sama kita-kita, kamu tidak akan merasakan hal itu lagi). Mendengarnya demikian, saya menjadi terharu dan benar-benar tersentuh. Sempat saya bertanya-tanya, apakah mereka sahabat sejati? Sesaat setelah mengobrol, kami semua ke kantin untuk jajan dan sikap mereka begitu baik kepada saya.

Beberapa hari kemudian, ada lagi kejadian menyentuh yang membuat saya semakin percaya akan persahabatan yang mereka berikan. Saat itu, sedang dilangsungkannya pelajaran Fisika di laboratorium. Kami berempat duduk dalam satu jajar kursi panjang. Saya sedang memiliki masalah di rumah dan suasana hati saya benar-benar sedang kusut. Akhirnya, saya mencurahkan kekesalan saya pada selembar kertas kotretan dengan menuliskan kata-kata sebagai berikut (saya masih mengingatnya! Hehe):

DASAR MEREKA SEMUA BRENGSEK!
TEMEN-TEMEN, JANGAN TINGGALIN AKU YA....

Penjelasan ‘mereka semua brengsek’ sebenarnya ditujukan pada orang-orang di rumah saya, dan ‘temen-temen’ ditujukan kepada Top Gear. Saya memang sedang kesal kepada orang-orang rumah dan saya berharap Top Gear bisa menenangkan saya. Tapi, saya enggan memberikan kertas yang bertuliskan demikian kepada siapa saja, sekedar ungkapan kesal semata. Maka, saya gulung-gulung kertas tersebut dan saya genggam seeratnya agar tidak ada yang membacanya.

Tetapi, saat guru fisika menyuruh mengerjakan soal, genggaman saya luput dari kertas itu karena harus mengerjakan soal di buku tulis. Setelah mengerjakan soal dan mengumpulkan buku tulis itu ke meja guru, saya melihat kertas tadi terbuka. Saya kaget dan langsung mengambil kertas tersebut. Dalam kertas tersebut, ada sebuah tulisan baru di bawah tulisan saya, yang berisi:

TENANG AJA COY, KITA-KITA NGGAK BAKAL NINGGALIN KAMU KOK.

Saya jelas terkejut dan sepertinya saya mengenal tulisan tersebut. Ini pasti tulisannya si Alfat. Saya pun menanyakannya dan memang benar. Bahkan, ia meminta saya menceritakan masalah yang terjadi dalam diri saya kepada dia dan teman-teman Top Gear. Maka, saya pun dengan sangat polos menceritakan masalah saya kepada mereka dan mereka menjadi pemberi solusi terbaik.

Dari hari ke hari setelah kejadian itu serta setelah kami memutuskan membentuk diri kami menjadi grup Top Gear, sikap mereka begitu baik pada saya. Mereka banyak memberi saya motivasi untuk maju dan kebahagiaan selalu menyertai hari-hari saya bersama mereka.

Betapa tidak? Bersama mereka pun, saya selalu meraih nilai-nilai yang tinggi dan bagus di kelas. Semua itu tak lain karena motivasi yang mereka berikan dan memang hampir setiap pulang sekolah kami belajar bersama di rumah Alfat. Segalanya semakin sempurna. Mimpi-mimpi baru menjelang dunia saya dengan keindahan yang bertebaran bersama persahabatan yang mereka rajut. Saya yang sama sekali tidak memiliki sahabat-sahabat seperti itu di kelas 3 SMP dan selalu merasa menderita, seakan begitu cepat terobati dengan kebahagiaan yang mereka berikan. Dalam malam redup, saya berdoa kepada Tuhan agar persahabatan kami bisa terus bersinar menerangi jalan yang saya tempuh, walau ternyata doa itu sama sekali tidak dikabulkan.

Lama kelamaan, hubungan kami semakin retak dan penuh pertengkaran. Bahkan hal yang kecil pun seringkali menjadi masalah yang besar. Hal ini bisa terjadi mungkin karena kami selalu berempat dan tidak pernah mau berbaur dengan yang lain sehingga terjadi kepenatan tersendiri. Akhirnya, saya cukup muak dengan situasi tersebut dan memutuskan untuk memisahkan diri dari mereka.

Ternyata, saya memang tidak bisa berpisah dari Top Gear. Satu hari saja tanpa mereka, rasanya ada sesuatu yang kurang. Ya, mungkin karena tidak terbiasa tanpa mereka dan tidak terbiasa berbaur dengan yang lain. Saking tak biasanya dan merasa tidak kuat menjalani hari tanpa mereka, akhirnya saya memutuskan untuk kembali bersama mereka. Tapi, ternyata mereka menolak dan mengatakan saya adalah sosok yang egois. Bahkan, saya berusaha meyakinkan untuk memperbaiki segalanya, tapi mereka tetap menolak. Saya pun merasa hancur dan sedih.

Setelah kejadian “penolakan untuk kembali” itu, saya tidak masuk ke sekolah selama 2 hari dan nilai-nilai saya jadi anjlok dan buruk sekali. Bahkan, seorang guru keheranan dengan perubahan saya yang drastis “ke bawah”. Saya tidak habis pikir, mengapa semua kebahagiaan itu bisa lenyap begitu cepat dan memporakporandakan dunia saya hingga hancur berkeping-keping?

Bila saat masih bersama Top Gear setiap jam istirahat saya selalu makan di kantin dengan mereka, maka saat setelah “berpisah”, setiap jam istirahat saya selalu pergi ke perpustakaan. Saya membaca buku-buku puisi, seperti “Tirani dan Benteng”-nya Taufik Ismail dan “Derai-derai cemara”-nya Chairil Anwar. Dari sana, saya sempat terpikir untuk menulis puisi lagi, karena di kelas 3 SMP dan semenjak SD saya memang gemar menulis puisi tapi sempat terhenti.

Lalu, saya pun menulis puisi dengan spontanitas. Saya mencurahkan semua rasa kehilangan saya terhadap Top Gear ke dalam puisi-puisi saya. Setiap hari saya terus menuliskannya. Sedangkan Top Gear semakin menghilang dan melupakan saya, seolah saya hanyalah fatamorgana di kala senja yang akan lenyap bersama kegelapan malam (alah...wekekeke). Hal itu semakin membuat saya produktif menulis, tapi tanpa memperhatikan metafora dan logika bahasa. Layaknya curhat dalam diary, semuanya tercurahkan dengan instan dan penuh rasa hati.

Kemudian, saya jadi terpikir lagi, bagaimana kalau saya jadikan saja puisi-puisi saya mengenai Top Gear itu ke dalam bentuk buku, dan saya terbitkan di perpustakaan sekolah SMA saya. Ide saya ini pun didukung oleh kakak-kakak saya yang mau membiayai biaya percetakan buku. Rasa semangat saya semakin besar, saya terus mengungkap rasa sedih dan kehilangan saya akan Top Gear.

Pada Desember 2003, buku puisi pertama saya, yang berjudul “Cerita Lalu”, terbit di sekolah saya dan saya promosikan di stasiun radio SMA saya. Rasanya cukup senang dan di buku pertama saya itu saya mencantumkan keterangan “untuk orang-orang yang kupertahankan – ataupun yang tidak”, yang artinya memang untuk Top Gear. Bagaimanakah reaksi Top Gear? Begitu dingin dan seolah menganggap tidak ada apa-apa, sedangkan teman-teman yang lain banyak yang menanyakan buku tersebut. Hal ini memang cukup ironi bagi saya.

Setelah terbit buku pertama saya yang “lugu” itu, saya mulai banyak mengenal teman-teman seantero sekolah dan kehidupan saya tentu banyak berubah setelah itu, yang membuat saya semakin produktif menulis puisi dan merencanakan membuat buku puisi selanjutnya.

Hingga akhirnya buku puisi kedua saya, “Kontroversi”, dan buku puisi ketiga saya, “Siluet”, terbit di perpustakaan sekolah, puisi-puisi mengenai kerinduan saya akan Top Gear masih tertera dalam kedua buku itu. Saya seolah terus menunggu kehadiran mereka kembali, bahkan setelah 2 tahun lamanya, walau kehidupan saya sudah jauh berubah dan teman-teman saya semakin banyak. Sungguh konyol, tapi cahaya harapan itu seakan kian menyala menerangi gelapnya realita tentang mereka yang semakin jauh dalam kehidupan saya. Bahkan, puisi saya yang memenangkan lomba di tingkat provinsi maupun kabupaten sebenarnya merupakan refleksi mengenai kerinduan saya akan Top Gear. Ah, sungguh lebay. Dan rasa penat pun mulai menerpa.

Di akhir masa SMA, tepatnya di semester 2 kelas 3, saya menerbitkan buku puisi keempat saya, “Independen” dan memutuskan melupakan harapan itu. Melupakan harapan untuk bisa kembali lagi bersama Top Gear, karena rasanya tak mungkin. Kehidupan kami sudah jauh berubah dan kami sudah memiliki dunia masing-masing. Memang sejak tahun 2004, grup Top Gear sepertinya sudah mulai bubar. Mereka bertiga menjalani kehidupan masing-masing dan Top Gear mungkin hanyalah kenangan masa lalu.

Tapi, saat perpisahan sekolah, peristiwa yang tidak saya sangka terjadi. Harapan yang hampir saya lupakan selamanya ternyata menjadi kenyataan. Semua anggota Top Gear berbaikan dengan saya dan bahkan kami berfoto bersama. Saya sungguh terharu bahkan tak percaya, benarkah ini realita? Dan saya pun menceritakan kepada mereka bahwa semua puisi saya merupakan refleksi dari kerinduan saya untuk bisa bersama mereka lagi, dan suasana haru semakin mengguyuri pada hari perpisahan itu. Saya juga tidak menyangka, ternyata mereka tidaklah melupakan saya seutuhnya seperti yang saya bayangkan, bahkan mereka pun mengaku seringkali membaca puisi-puisi saya di perpustakaan sekolah. Bisa disimpulkan bahwa perpecahan itu terjadi karena “ego remaja” kami yang kian memuncak dan sulit terbendung.

Top Gear, saat perpisahan sekolah
(dari kiri: Cak Nur, Alfat, Peri, dan saya)


Hari itu terasa begitu indah. Ternyata semua puisi yang selama ini saya tulis bukanlah kesia-siaan belaka terhadap harapan saya. Tetapi, dunia ini adalah padang realita yang harus dilewati dengan tameng diri. Kami semua memisah karena mengambil jalur masa depan yang berbeda, dan bahkan keindahan akan persahabatan kami pun memudar dalam kenangan.

Kebersamaan kami terasa berbeda dalam era yang baru. Saya pernah beberapa kali jalan-jalan dan nonton bareng bersama Alfat di Bandung pada tahun 2007 dan 2008, tapi rasanya canggung sekali, walau dia seringkali “curhat” masalah pribadi dan masalah cewek kepada saya (tapi saya TIDAK PERNAH curhat padanya). Begitu pula Cak Nur, saya pernah dalam 1 bulan selalu bersms ria dengannya, tetapi saya merasa itu hanyalah euforia sesaat tentang mengenang masa lalu dan tidak memberi bekas apapun yang berkesan. Semuanya telah berubah.

Saya hanya bisa memetik pelajaran dalam kisah ini, karena kisah ini bagi saya merupakan kesalahan terbesar dalam hidup saya. Saya seringkali bertanya, kenapa saya harus ketergantungan kepada mereka, bahkan seolah mempertuhankan mereka? bahkan dalam menulis puisi sekalipun? Mengapa puisi-puisi saya harus terinspirasi tentang mereka, yang membuat saya semakin larut dalam rasa sedih dan sebenarnya membuat saya semakin hancur? Karena mereka hanyalah selintas kenangan saja? Yang pada akhirnya tidak berdampak besar terhadap apapun? Benarkah?

Maka dari itu, di buku puisi terbaru yang sedang saya garap kini tidak akan tercantum puisi tentang Top Gear. Sudah saatnya saya berpikir realistis, puisi bukan sekedar ekspresi atau alas untuk berkompensasi akan kerinduan. Puisi bermakna lebih dari itu. Maka, saya menggarap dan menulis puisi kali ini tidak mau seperti dulu, mengenang lalu menuliskan begitu saja. Saya harus belajar dari pengalaman, pengetahuan, karya-karya leluhur, dan kritik-kritik dalam menulis puisi. Karena saya kini menilai, setelah melewati perjalanan hidup yang cukup panjang tanpa Top Gear, puisi adalah proses perenungan terhadap banyak hal untuk semakin memahami hidup yang setiap waktu terus berjalan.


IBS
(23 Februari 2009 02:38 WIB)

Jumat, 2009 Februari 06

Sebuah Pertemuan

: Dika Jatnika

Akhirnya kita sama-sama tahu
Cuaca dingin yang menebar angin kali ini
Adalah rindu-rindu awan kelabu:
Sebelum gerimis datang, terucaplah doa
Tentang pertemuan hujan yang tak sempat terwujud

Demikianlah
Hingga menjadi cerita di musim yang basah
Pada batas khatulistiwa yang meradang
Dan langit meratap, sebuah kebiasaan
Yang mendirikan kehampaan

Maka
Kau pun melebur ke dalam udara
Di musim selanjutnya, sambil menanti hujan
Membasahi tangismu yang mengering
Sedangkan aku menjadi puing-puing
Yang terombang-ambing
Oleh alam yang menjerit nyaring


(6 Februari 2009 15:15 WIB)