Tanpa kehadiran grup yang bernama Top Gear ke dalam hidup saya, mungkin hingga saat ini saya tidak akan pernah membukukan puisi-puisi saya. Grup yang beranggotakan Alfat, Peri, Cak Nur, dan saya tentunya memiliki arti tersendiri dalam setiap puisi yang saya bukukan selama ini. Dan kisah Top Gear ini selalu saya ingat.
Juli 2003, di mana kisah ini dimulai. Saya begitu bahagia bisa diterima di sebuah SMA “yang katanya” terfavorit di kota kelahiran saya. Bagaimana tidak? Selain semacam merasa menyandang “predikat” sebagai siswa di sebuah sekolah favorit, perjuangan saya untuk masuk ke sana cukup berat. Di kelas 3 SMP, saya harus benar-benar berjuang keras dalam hal belajar (karena saya memang sangat pas-pasan sekali dari semenjak awal masuk SMP) dan saya harus berjuang keras menghadapi segala rintangan yang ada di kelas 3 SMP saya. Selama di kelas 3 SMP, hampir setiap hari saya diganggu dan disiksa oleh kelompok berandal kelas saya. Buku pelajaran saya dirusak, pulpen dan pensil saya dibuang, muka saya dilempari timbunan sampah, bulu kaki saya dibakar, dan masih banyak lagi rintangan yang saya hadapi di sana. Aduh, kok bisa sampe sebegitunya sih? SMP saya sebenarnya SMP terfavorit juga di kota kelahiran saya, tetapi kebetulan sekali semua anak-anak bermasalah berkumpul di kelas saya. Dan penyebab utama saya dibegitukan mungkin karena saya tidak begitu mau bergabung dengan kelompok berandal tersebut dan tidak cocok dengan gaya mereka.
Dengan perjuangan yang cukup keras, saya pun meraih impian saya. Sungguh bahagianya saya saat itu (dan rasa bahagia itu masih bisa saya rasakan hingga detik ini walaupun terkesan berlebihan ya? hehe). Saat mimpi indah itu menjadi nyata, saya pun dipertemukan dengan 3 orang sahabat yang mana mereka adalah grup Top Gear: Alfat, Peri, dan Cak Nur. Kebetulan kami semua berada dalam satu kelas, hingga kisah pun terus berlanjut (alah... kayak film aja, hehehe).
Awalnya, saya merasa biasa-biasa saja berteman dengan mereka bertiga. Mereka bertiga memang satu SMP dengan saya tapi tidak begitu saya kenal. Jadi, rasanya biasa saja berteman dengan teman satu SMP di SMA yang sama. Namun, hingga suatu ketika, 3 hari setelah MOS (masa orientasi siswa), sebuah kejadian yang membuat saya terharu pun terjadi.
Saat itu, tidak ada guru yang mengajar di kelas. Kami berempat duduk di bangku kami yang memang berdekatan dan memulai obrolan yang berkaitan dengan kenangan di kelas 3 SMP. Satu per satu dari kami pun menceritakan kisah-kisahnya, yang memang lucu dan seru. Dan ketika giliran saya, saya enggan menceritakan, karena kisah saya sungguh menyedihkan dan tidak seru. Tapi, mereka memaksa saya agar menceritakannya, hingga saya terpaksa menceritakan semuanya.
Saya pun menceritakannya dengan tanpa melebihkan dan sungguh apa adanya. Diluar dugaan, saya melihat reaksi mereka: Peri melongo seakan kaget, Cak Nur berkaca-kaca, dan Alfat marah-marah sambil mengatakan, “
Naha atuh maneh teu pindah ka kelas 3 A? di 3 A kan aya urang jeung si Peri. Maneh meureun moal samenderita kawas kitu!” (Kenapa kamu tidak pindah ke kelas 3 A? di 3 A
kan ada aku dan si Peri. Kamu mungkin tidak akan semenderita itu!). Mengetahui reaksi mereka seperti itu, saya terharu dan saya mengatakan, “Mungkin karena aku memang terlihat aneh dan nyentrik yang membuat mereka begitu sama aku. Tapi, adilkah bisa harus sampai dibegitukan? Mmm... biarlah, semua itu kan udah lewat.”
Sejenak mereka bertiga terdiam dan akhirnya mereka berkata, “
Man, pokokna mun maneh bareng jeung arurang, maneh moal ngarasakeun kitu deui.” (Man, pokoknya kalau kamu
bareng sama kita-kita, kamu tidak akan merasakan hal itu lagi). Mendengarnya demikian, saya menjadi terharu dan benar-benar tersentuh. Sempat saya bertanya-tanya, apakah mereka sahabat sejati? Sesaat setelah mengobrol, kami semua ke kantin untuk jajan dan sikap mereka begitu baik kepada saya.
Beberapa hari kemudian, ada lagi kejadian menyentuh yang membuat saya semakin percaya akan persahabatan yang mereka berikan. Saat itu, sedang dilangsungkannya pelajaran Fisika di laboratorium. Kami berempat duduk dalam satu jajar kursi panjang. Saya sedang memiliki masalah di rumah dan suasana hati saya benar-benar sedang kusut. Akhirnya, saya mencurahkan kekesalan saya pada selembar kertas kotretan dengan menuliskan kata-kata sebagai berikut (saya masih mengingatnya! Hehe):
DASAR MEREKA SEMUA BRENGSEK!TEMEN-TEMEN, JANGAN TINGGALIN AKU YA....Penjelasan ‘mereka semua brengsek’ sebenarnya ditujukan pada orang-orang di rumah saya, dan ‘temen-temen’ ditujukan kepada Top Gear. Saya memang sedang kesal kepada orang-orang rumah dan saya berharap Top Gear bisa menenangkan saya. Tapi, saya enggan memberikan kertas yang bertuliskan demikian kepada siapa saja, sekedar ungkapan kesal semata. Maka, saya gulung-gulung kertas tersebut dan saya genggam seeratnya agar tidak ada yang membacanya.
Tetapi, saat guru fisika menyuruh mengerjakan soal, genggaman saya luput dari kertas itu karena harus mengerjakan soal di buku tulis. Setelah mengerjakan soal dan mengumpulkan buku tulis itu ke meja guru, saya melihat kertas tadi terbuka. Saya kaget dan langsung mengambil kertas tersebut. Dalam kertas tersebut, ada sebuah tulisan baru di bawah tulisan saya, yang berisi:
TENANG AJA COY, KITA-KITA NGGAK BAKAL NINGGALIN KAMU KOK.Saya jelas terkejut dan sepertinya saya mengenal tulisan tersebut. Ini pasti tulisannya si Alfat. Saya pun menanyakannya dan memang benar. Bahkan, ia meminta saya menceritakan masalah yang terjadi dalam diri saya kepada dia dan teman-teman Top Gear. Maka, saya pun dengan sangat polos menceritakan masalah saya kepada mereka dan mereka menjadi pemberi solusi terbaik.
Dari hari ke hari setelah kejadian itu serta setelah kami memutuskan membentuk diri kami menjadi grup Top Gear, sikap mereka begitu baik pada saya. Mereka banyak memberi saya motivasi untuk maju dan kebahagiaan selalu menyertai hari-hari saya bersama mereka.
Betapa tidak? Bersama mereka pun, saya selalu meraih nilai-nilai yang tinggi dan bagus di kelas. Semua itu tak lain karena motivasi yang mereka berikan dan memang hampir setiap pulang sekolah kami belajar bersama di rumah Alfat. Segalanya semakin sempurna. Mimpi-mimpi baru menjelang dunia saya dengan keindahan yang bertebaran bersama persahabatan yang mereka rajut. Saya yang sama sekali tidak memiliki sahabat-sahabat seperti itu di kelas 3 SMP dan selalu merasa menderita, seakan begitu cepat terobati dengan kebahagiaan yang mereka berikan. Dalam malam redup, saya berdoa kepada Tuhan agar persahabatan kami bisa terus bersinar menerangi jalan yang saya tempuh, walau ternyata doa itu sama sekali tidak dikabulkan.
Lama kelamaan, hubungan kami semakin retak dan penuh pertengkaran. Bahkan hal yang kecil pun seringkali menjadi masalah yang besar. Hal ini bisa terjadi mungkin karena kami selalu berempat dan tidak pernah mau berbaur dengan yang lain sehingga terjadi kepenatan tersendiri. Akhirnya, saya cukup muak dengan situasi tersebut dan memutuskan untuk memisahkan diri dari mereka.
Ternyata, saya memang tidak bisa berpisah dari Top Gear. Satu hari saja tanpa mereka, rasanya ada sesuatu yang kurang. Ya, mungkin karena tidak terbiasa tanpa mereka dan tidak terbiasa berbaur dengan yang lain. Saking tak biasanya dan merasa tidak kuat menjalani hari tanpa mereka, akhirnya saya memutuskan untuk kembali bersama mereka. Tapi, ternyata mereka menolak dan mengatakan saya adalah sosok yang egois. Bahkan, saya berusaha meyakinkan untuk memperbaiki segalanya, tapi mereka tetap menolak. Saya pun merasa hancur dan sedih.
Setelah kejadian “penolakan untuk kembali” itu, saya tidak masuk ke sekolah selama 2 hari dan nilai-nilai saya jadi anjlok dan buruk sekali. Bahkan, seorang guru keheranan dengan perubahan saya yang drastis “ke bawah”. Saya tidak habis pikir, mengapa semua kebahagiaan itu bisa lenyap begitu cepat dan memporakporandakan dunia saya hingga hancur berkeping-keping?
Bila saat masih bersama Top Gear setiap jam istirahat saya selalu makan di kantin dengan mereka, maka saat setelah “berpisah”, setiap jam istirahat saya selalu pergi ke perpustakaan. Saya membaca buku-buku puisi, seperti “Tirani dan Benteng”-nya Taufik Ismail dan “Derai-derai cemara”-nya Chairil Anwar. Dari sana, saya sempat terpikir untuk menulis puisi lagi, karena di kelas 3 SMP dan semenjak SD saya memang gemar menulis puisi tapi sempat terhenti.
Lalu, saya pun menulis puisi dengan spontanitas. Saya mencurahkan semua rasa kehilangan saya terhadap Top Gear ke dalam puisi-puisi saya. Setiap hari saya terus menuliskannya. Sedangkan Top Gear semakin menghilang dan melupakan saya, seolah saya hanyalah fatamorgana di kala senja yang akan lenyap bersama kegelapan malam (alah...wekekeke). Hal itu semakin membuat saya produktif menulis, tapi tanpa memperhatikan metafora dan logika bahasa. Layaknya curhat dalam
diary, semuanya tercurahkan dengan instan dan penuh rasa hati.
Kemudian, saya jadi terpikir lagi, bagaimana kalau saya jadikan saja puisi-puisi saya mengenai Top Gear itu ke dalam bentuk buku, dan saya terbitkan di perpustakaan sekolah SMA saya. Ide saya ini pun didukung oleh kakak-kakak saya yang mau membiayai biaya percetakan buku. Rasa semangat saya semakin besar, saya terus mengungkap rasa sedih dan kehilangan saya akan Top Gear.
Pada Desember 2003, buku puisi pertama saya, yang berjudul “Cerita Lalu”, terbit di sekolah saya dan saya promosikan di stasiun radio SMA saya. Rasanya cukup senang dan di buku pertama saya itu saya mencantumkan keterangan “untuk orang-orang yang kupertahankan – ataupun yang tidak”, yang artinya memang untuk Top Gear. Bagaimanakah reaksi Top Gear? Begitu dingin dan seolah menganggap tidak ada apa-apa, sedangkan teman-teman yang lain banyak yang menanyakan buku tersebut. Hal ini memang cukup ironi bagi saya.
Setelah terbit buku pertama saya yang “lugu” itu, saya mulai banyak mengenal teman-teman seantero sekolah dan kehidupan saya tentu banyak berubah setelah itu, yang membuat saya semakin produktif menulis puisi dan merencanakan membuat buku puisi selanjutnya.
Hingga akhirnya buku puisi kedua saya, “Kontroversi”, dan buku puisi ketiga saya, “Siluet”, terbit di perpustakaan sekolah, puisi-puisi mengenai kerinduan saya akan Top Gear masih tertera dalam kedua buku itu. Saya seolah terus menunggu kehadiran mereka kembali, bahkan setelah 2 tahun lamanya, walau kehidupan saya sudah jauh berubah dan teman-teman saya semakin banyak. Sungguh konyol, tapi cahaya harapan itu seakan kian menyala menerangi gelapnya realita tentang mereka yang semakin jauh dalam kehidupan saya. Bahkan, puisi saya yang memenangkan lomba di tingkat provinsi maupun kabupaten sebenarnya merupakan refleksi mengenai kerinduan saya akan Top Gear. Ah, sungguh lebay. Dan rasa penat pun mulai menerpa.
Di akhir masa SMA, tepatnya di semester 2 kelas 3, saya menerbitkan buku puisi keempat saya, “Independen” dan memutuskan melupakan harapan itu. Melupakan harapan untuk bisa kembali lagi bersama Top Gear, karena rasanya tak mungkin. Kehidupan kami sudah jauh berubah dan kami sudah memiliki dunia masing-masing. Memang sejak tahun 2004, grup Top Gear sepertinya sudah mulai bubar. Mereka bertiga menjalani kehidupan masing-masing dan Top Gear mungkin hanyalah kenangan masa lalu.
Tapi, saat perpisahan sekolah, peristiwa yang tidak saya sangka terjadi. Harapan yang hampir saya lupakan selamanya ternyata menjadi kenyataan. Semua anggota Top Gear berbaikan dengan saya dan bahkan kami berfoto bersama. Saya sungguh terharu bahkan tak percaya, benarkah ini realita? Dan saya pun menceritakan kepada mereka bahwa semua puisi saya merupakan refleksi dari kerinduan saya untuk bisa bersama mereka lagi, dan suasana haru semakin mengguyuri pada hari perpisahan itu. Saya juga tidak menyangka, ternyata mereka tidaklah melupakan saya seutuhnya seperti yang saya bayangkan, bahkan mereka pun mengaku seringkali membaca puisi-puisi saya di perpustakaan sekolah. Bisa disimpulkan bahwa perpecahan itu terjadi karena “ego remaja” kami yang kian memuncak dan sulit terbendung.
Top Gear, saat perpisahan sekolah
(dari kiri: Cak Nur, Alfat, Peri, dan saya)Hari itu terasa begitu indah. Ternyata semua puisi yang selama ini saya tulis bukanlah kesia-siaan belaka terhadap harapan saya. Tetapi, dunia ini adalah padang realita yang harus dilewati dengan tameng diri. Kami semua memisah karena mengambil jalur masa depan yang berbeda, dan bahkan keindahan akan persahabatan kami pun memudar dalam kenangan.
Kebersamaan kami terasa berbeda dalam era yang baru. Saya pernah beberapa kali jalan-jalan dan nonton bareng bersama Alfat di Bandung pada tahun 2007 dan 2008, tapi rasanya canggung sekali, walau dia seringkali “curhat” masalah pribadi dan masalah cewek kepada saya (tapi saya TIDAK PERNAH curhat padanya). Begitu pula Cak Nur, saya pernah dalam 1 bulan selalu bersms ria dengannya, tetapi saya merasa itu hanyalah euforia sesaat tentang mengenang masa lalu dan tidak memberi bekas apapun yang berkesan. Semuanya telah berubah.
Saya hanya bisa memetik pelajaran dalam kisah ini, karena kisah ini bagi saya merupakan kesalahan terbesar dalam hidup saya. Saya seringkali bertanya, kenapa saya harus ketergantungan kepada mereka, bahkan seolah mempertuhankan mereka? bahkan dalam menulis puisi sekalipun? Mengapa puisi-puisi saya harus terinspirasi tentang mereka, yang membuat saya semakin larut dalam rasa sedih dan sebenarnya membuat saya semakin hancur? Karena mereka hanyalah selintas kenangan saja? Yang pada akhirnya tidak berdampak besar terhadap apapun? Benarkah?
Maka dari itu, di buku puisi terbaru yang sedang saya garap kini tidak akan tercantum puisi tentang Top Gear. Sudah saatnya saya berpikir realistis, puisi bukan sekedar ekspresi atau alas untuk berkompensasi akan kerinduan. Puisi bermakna lebih dari itu. Maka, saya menggarap dan menulis puisi kali ini tidak mau seperti dulu, mengenang lalu menuliskan begitu saja. Saya harus belajar dari pengalaman, pengetahuan, karya-karya leluhur, dan kritik-kritik dalam menulis puisi. Karena saya kini menilai, setelah melewati perjalanan hidup yang cukup panjang tanpa Top Gear, puisi adalah proses perenungan terhadap banyak hal untuk semakin memahami hidup yang setiap waktu terus berjalan.
IBS(23 Februari 2009 02:38 WIB)