Darren Aronofsky tampil memukau lewat film yang disutradarainya yang rilis di tahun 2008, berjudul "The Wrestler". Film tersebut meraih sejumlah nominasi piala Oscar, termasuk kategori film terbaik. Lewat film yang berlatar belakang kehidupan seorang pegulat (Wrestler), Aronofsky mempertontonkan secara personal dengan detail sisi kehidupan sang penggulat, sehingga terasa begitu berbeda dan sangat "menusuk". Film tersebut memberi kesan tersendiri bagi saya, dengan ending yang menggantung namun begitu dalam, saya menangkap bahwa film tersebut memiliki esensi cerita yang sangat baik dan penggarapan yang apik. Kemudian, Aronofsky hadir kembali dengan film terbarunya di tahun 2010 yang kemudian dia beri judul "Black Swan". Bagaimana hasilnya? Sangat memukau, bahkan hampir menyamai pencapaiannya dalam film "The Wrestler". Teknik pengambilan gambarnya pun tidak jauh berbeda, yang tentunya memberi sentuhan tersendiri yang lebih personal dan lebih detail terhadap sang tokoh utama, yang bernama Nina (diperankan oleh Natalie Portman). Dalam film ini, Aronofsky mempertunjukkan sisi kesempurnaan sang penari balet saat menampilkan pertunjukan besarnya dan sang penari balet harus melawan dirinya sendiri, sehingga menemukan sisi gelap dalam dirinya. Ini adalah film thriller psikologi.
Film ini menceritakan sosok Nina, seorang penari balet yang gigih berlatih dan sangat disiplin. Dia sangat dimanjakan oleh ibunya sehingga membentuknya menjadi sosok yang rapuh, cupu, dan lemah. Suatu hari, di dalam klub tari baletnya, diumumkan bahwa akan ada sebuah pertunjukan besar balet yang mengharuskannya berlatih keras. Sayangnya, Nina yang ternyata mendapatkan "peran utama" dalam pertunjukan balet tersebut mengalami satu hambatan yang baginya cukup besar: ia harus menjadi sosok yang licik dan jahat, yang merupakan pencerminan dari karakter angsa hitam. Nina mengalami banyak kesulitan untuk memunculkannya, bahkan sampai sang sutradara menyuruhnya bersetubuh dan masturbasi untuk mengeluarkan "sisi gelap" itu. Hal ini wajar terjadi, karena Nina terlalu dimanjakan ibunya. Usianya yang sudah 28 tahun dianggap masih anak kecil oleh ibunya. Di kamarnya disediakan banyak boneka, mainan balet, serta harus hidup teratur layaknya anak kecil.
Saking terobsesinya Nina terhadap peran tersebut, dia mulai memberontak dari kesehariannya. Dia masuk diskotik, mabuk, berciuman, serta melawan ibunya. Lama kelamaan, hal ini menjadi problema tersendiri. Nina menjadi semakin total dalam memerankan perannya. Semakin hari, setelah dia melakukan pemberontakan atas dirinya sendiri, Nina akhirnya menemukan sisi gelap dalam dirinya, yang begitu pemarah, jahat, dan ternyata menyiksa dirinya sendiri. Pertunjukan besar itu pun berlangsung, dengan sejumlah kerancuan di dalamnya, serta totalitas Nina yang dianggap sangat memukau: sekaligus harus ditukar dengan rasa sakit yang mematikan pada tubuhnya.
Dari segi penggarapannya, film ini cukup mengasyikkan. Sosok-sosok yang sering menghantui Nina dimunculkan dengan sangat mengerikan sekaligus menjebak. Karakter Nina yang rapuh sayangnya agak sedikit berlebihan ketika dimunculkan oleh Portman (ditambah lagi dengan iringan musik "score"-nya seringkali agak berlebihan), walau tentu saja itu tidak buruk pula. Nah, ketika Portman memunculkan sisi gelap Nina yang merupakan angsa hitam, ini begitu mengejutkan. Karakter yang rapuh itu diputarbalikkan menjadi begitu jahat, jalang, dan kuat oleh Portman dengan cukup drastis sekaligus "indah". Pantaskah Portman mendapatkan Oscar untuk kategori aktris terbaik atas film ini? Mungkin, karena saya belum mengetahui kualitas nominator lainnya. :)
Secara keseluruhan, "Black Swan" adalah film yang berkualitas tinggi. Film ini menunjukkan betapa sebuah karya seni yang baik adalah kinerja yang penuh totalitas, bahkan ketika nyawa dan tubuh yang jadi taruhannya. Hal ini mengingatkan saya pada konsep "performance art", di mana tubuh berperan besar dalam konsepnya. Bila tubuh itu sakit, maka sakitlah dengan nyata dan begitu terasa. Dan "Black Swan" menggambarkan rasa ketertekanan Nina yang mengerikan, penuh gejolak, sekaligus indah yang diubahnya menjadi karya seni yang begitu baik dan penuh totalitas.
Rating for "Black Swan": 4 stars*
)* This is it:
1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars: Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars: Not Bad... (Lumayan...)
4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars: Very Good!! (Sangat Bagus!!)

