Kamis, 24 Maret 2011

"Citizen Kane" (1941): Manusia Itu Keningnya Kering, Pucat dan Kesepian

"Citizen Kane" (1941) dinobatkan oleh American Film Institute (AFI) sebagai film terbaik sepanjang masa, padahal di masa rilisnya, film ini sama sekali tidak memenangkan piala Oscar untuk kategori film terbaik dan gagal dari segi pendapatan finansial. Saya sangat penasaran pada film ini setelah membaca keterangan tersebut di sejumlah situs film sejak tahun 2007. Seperti apakah film terbaik sepanjang masa itu? Berbagai aspek tentu harus mendukung, bukan cuma dari segi akting dan cerita, tapi juga tata artistik hingga teknik pengambilan gambar. Dan pada akhirnya, setelah pulang beraktifitas tadi, saya menemukan film ini dan tentu saja langsung saya tonton.

Setelah selesai menontonnya, ada kesan mendalam yang saya dapatkan dari film ini, walau sebenarnya cukup klise bila dijabarkan: cinta dan kebahagiaan tak dapat dibeli dengan uang - walaupun pada kenyataannya, banyak orang yang dibutakan oleh uang hanya untuk cinta dan kebahagiaan. Tapi, bagaimana esensi dari cinta itu sendiri? Tetap saja, cinta tak dapat dibeli dengan uang. Bila anda menikahi seseorang yang kaya raya, apakah anda benar-benar mencintainya? Akankah rasa cinta anda dan pasangan anda terus bertahan bila pasangan anda yang kaya raya itu terus memanjakan anda dengan harta? Mungkin pertanyaan-pertanyaan semacam itu sangat basi dan mudah dijawab, walau di sisi lain, hal ini bagi saya akan sangat sulit dijawab pada kenyataannya.

Film ini menjabarkan hal tersebut. Film ini menceritakan sosok Kane yang berasal dari keluarga miskin lantas dibawa oleh seseorang yang secara finansial sangat kaya untuk dididik dengan "lebih berpendidikan", daripada tetap hidup di dalam kemiskinan keluarga kandungnya. Kane sebenarnya tidak mau menjalaninya, tapi karena terpaksa, akhirnya sampai ia dewasa (25 tahun) ia menjalani kehidupan tersebut. Kemudian, Kane pun memimpin kantor media massa "The New Your Inquirer" yang membuat dirinya semakin kaya dan kaya, walau ternyata Kane banyak "berbuat ulah yang konyol" dengan kekayaannya.

Kane membeli apapun yang bahkan tidak dia butuhkan dan tidak dia inginkan. Ia membuat sensasi yang aneh dan "bodoh", bahkan sampai menjadikan dirinya sebagai calon presiden. Pidatonya yang menggugah dan diprediksikan akan membuatnya menang dalam pemilu, akhirnya harus kandas karena ia mencintai seorang perempuan yang ia temui tidak sengaja di jalan.

Dari sana lah kehidupan Kane semakin disorot keberadaannya. Dengan dalih cinta yang tanpa landasan, Kane memanjakan perempuan tersebut: menikahinya dan menjalani rumah tangga dengannya hanya karena alasan cinta yang konyol. Sebenarnya, sang istri tidak pernah meminta apapun pada Kane, tidak meminta untuk menikah, atau tidak meminta untuk dimanjakan (saking dimanjakannya, Kane sampai membuatkan gedung opera untuk sang istri karena sang istri ingin menjadi penyanyi opera tanpa permintaan dari istrinya itu). Kane melakukan semua itu atas nama cinta, yang ternyata sama sekali tidak membuat istrinya mencintainya. Dialog mendalamnya adalah, "Kau memberiku apapun yang tak ada dalam dirimu."

Istri Kane merasa jenuh dengan keberadaan "dimanjakan" tersebut, bahkan sampai jatuh sakit. Lama kelamaan, istri Kane meninggalkan Kane. Kane pun kesal, marah, dan jatuh sakit. Kane yang semakin sakit-sakitan pun akhirnya mendekati kematiannya. Sebelum mati, Kane menyebutkan satu kata terakhir dalam hidupnya: "Rosebud".

Apa itu "Rosebud"? Apakah selingkuhannya Kane? Perempuan yang pernah dicintai Kane? Ternyata tidak dan sangat membingungkan. Kata tersebutlah yang sangat diulik, dicari rahasianya, yang walaupun tidak sampai terkuak oleh para jurnalis yang sengaja ditugaskan untuk mencari tahu apa arti dari kata "Rosebud" tersebut. Di sini lah sisi yang menarik dari film ini. Dengan gaya "flashback", untuk ukuran film yang rilis di tahun 40-an, film ini jelas mendobrak. Teknik pengambilan gambar serta unsur artistik di dalamnya cukup baik ditampilkan, seperti bayangan pada cermin-cermin saat Kane meninggalkan kamarnya setelah kesal akibat istrinya yang meninggalkannya. Belum lagi dialognya yang tergarap baik, film ini sangat apik materinya secara keseluruhan.

Saya tidak akan menyebutkan apa arti dari kata "Rosebud" itu, karena kata "Rosebud" itulah klimaks dari film ini, yang ditunjukkan di bagian akhir, dengan cara yang sangat konyol sekaligus begitu "menusuk" (yang artinya, silahkan anda sendiri yang mencari tahu dengan menontonnya langsung, :D). Ya, mungkin cukup wajar AFI memilih film ini sebagai film terbaik sepanjang masa. Film ini seolah mengritik keserakahan Amerika Serikat yang hanya menginginkan kekuasaan (baca: harta) yang melimpah, tapi bagaimana dengan hati mereka? Tidakkah mereka kesepian? Apakah mereka bahagia? Atau apakah mereka menemukkan esensi dari hidup mereka sendiri setelah sepanjang umur hanya dihabiskan dengan "percarian harta" itu? Cinta adalah semua yang kita perlukan dalam hidup in untuk membentuk kebahagiaan itu sendiri, walau kenyataannya kita tidak bisa hidup tanpa uang di zaman yang penuh kapitalisme seperti ini. Hmm, di sini saya menemukan pertanyaan tentang kebahagiaan: kebahagiaan memang diciptakan oleh diri kita sendiri, tapi sedalam apakah dan dengan apakah kita menggali arti dari kebahagiaan itu sendiri? Dengan harta? Dengan cinta? Mungkin keduanya pun tidak selalu mampu mewujudkannya. Saya jadi ingat "favorite quotation" yang tertera pada profil facebook milik penyair Afrizal Malna: "Manusia itu keningnya kering, pucat dan kesepian".



Rating for "Citizen Kane": 5 stars*

)* This is it:
1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars: Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars: Not Bad... (Lumayan...)
4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars: Very Good!! (Sangat Bagus!!)