Senin, 11 April 2011

"A Single Man": Rasa Kehilangan Seorang Gay

Di Indonesia, kaum gay belum mendapatkan pengakuan dari masyarakat kebanyakan saat ini. Mereka dianggap "tabu" dan "salah" oleh masyarakat karena berbagai macam hal, khususnya karena doktrin para pemuka agama dan penguasa. Padahal, Indonesia memiliki sejarah kehidupan gay yang tercatat dalam Serat Centhini yang terbit di tahun 1800-an. Maka, kehidupan gay menjadi cukup menarik untuk disimak di negara Indonesia, walau sebenarnya kehidupan gay Indonesia yang banyak disorot cukup klise, "terlalu urban", dan kurang ada kedalaman makna, sehingga memunculkan polemik tersendiri dalam kaum gay itu sendiri. Tapi, jangan salah. Saya menemukan seorang teman gay yang usianya 42 tahun dan tidak menikah yang menjadi salah satu dari keluarga besar organisasi Islam ternama di Indonesia. Dan yang cukup mengejutkan, teman gay saya itu sudah berpacaran dengan kekasihnya selama 16 tahun!

Teman gay saya ini memang cukup unik bila dibandingkan dengan fenomena gay "urban" di sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung, di mana mereka kebanyakan hanya mencari kenikmatan sesaat ("only for sex and fun") dan kurang bisa memaknai hakikat diri mereka sendiri sebagai gay. Dia tetap taat beragama, apalagi bila mengaitkannya dengan keluarga besarnya yang merupakan salah satu organisasi Islam ternama di Indonesia, yang juga tetap melakukan hubungan homoseksual selama belasan tahun. Cerita ini agak mirip dengan film yang akan saya ulas ini, yang berjudul "A Single Man", yang disutradarai oleh seorang "fashion designer" yang bernama Tom Ford dan meraih nominasi Oscar 2009 pada kategori "Best Actor" untuk Colin Firth (Colin Firth akhirnya meraih piala Oscar untuk kategori "Best Actor" atas aktingnya di film "The King's Speech" (2010)).

Film ini menceritakan seorang profesor paruh baya yang bernama George Falconer (diperankan oleh Colin Firth) yang mengalami depresi terpendam setelah kekasih gay-nya meninggal akibat kecelakaan mobil. Wajar saja Falconer mengalami depresi terpendam seperti itu, karena hubungannya dengan kekasih gay-nya yang bernama Jim sudah berlangsung selama 16 tahun dan pada zamannya (diceritakan pada tahun 1962) kehidupan pasangan gay masih belum merebak seperti sekarang di Los Angeles. Hubungan percintaan mereka yang terbilang indah dan penuh kenangan mendalam itu membuat Falconer merasa sangat kehilangan. Falconer akhirnya berlari pada obat-obat penenang untuk mengatasidepresinya itu, walau tetap saja bayang-bayang Jim masih terus menghantui pikirannya, bahkan pada mimpi-mimpinya di saat tidur.

Pada suatu hari, dia berencana untuk bunuh diri dengan menggunakan pistol miliknya untuk mengakhiri hidupnya dan rasa kehilangannya yang kian menyiksa. Namun, rencana bunuh diri itu gagal dengan banyak hal yang "tidak sengaja" dan cukup "konyol". Falconer bertemu dengan sahabat perempuannya, Charley, yang menggodanya agar bercumbu mesra dengannya, walau gagal karena Falconer seorang gay. Lantas, Falconer pun didekati oleh mahasiswanya yang bernama Kenny yang "tertarik" padanya, serta sejumlah ganjalan lainnya yang menghambatnya untuk melakukan bunuh diri dengan menggunakan pistol miliknya.

Semua ganjalan tersebut disampaikan dengan cukup artistik, natural, serta serasa halusinasi. Pada hari yang sama, yaitu hari di mana Falconer memutuskan untuk bunuh diri, Falconer memang mati, tapi bukan dengan bunuh diri menggunakan pistol. Bagaimanakah? Silahkan tonton sendiri! Sebagai sutradara baru, Tom Ford sangat mahir menggarap film ini. Ia mampu menampilkan sisi-sisi kehilangan dari seorang pria paruh baya yang gay secara menawan dan begitu menyedihkan di antara kehidupannya yang kaya raya dan berpendidikan. Akting Colin Firth pun sangat menonjol dan pas. Ia mampu membawakan karakter yang rapuh tapi mencoba bertahan di hadapan umum sebagai seorang gay.

Saya juga menemukan makna yang mendalam dari cerita yang disampaikannya. Cinta yang mendalam tentu tak mengenal jenis kelamin bila tiap individu mampu mengarunginya. Orientasi seksual memang merupakan salah satu pelantara dari hubungan cinta tersebut, namun ada hal-hal yang lebih mendukungnya: komitmen, proses kesetiaan, dan seberapa dalam kita memaknai hubungan cinta tersebut. Rasa kehilangan yang dialami Falconer memberi cerminan bahwa komitmen yang kuat dan pertahanan yang "jatuh bangun" merupakan modal utama untuk sebuah hubungan cinta yang kuat. Mereka tidak lagi meributkan perihal orientasi seksual yang menjadi kontroversi, mereka fokus pada hubungan mereka, mereka fokus pada komitmen masing-masing. Mereka tak perlu pengakuan, tak perlu pernikahan, dan tak perlu membeber-beberkan hubungan cinta mereka secara besar-besaran,cukup mereka berdua yang menikmatinya secara intim. Menurut saya, di sinilah cinta yang mendalam itu ada.



Rating for "A Single Man": 5 stars*

)* This is it:
1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars: Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars: Not Bad... (Lumayan...)
4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars: Very Good!! (Sangat Bagus!!)