Pada awalnya, saya tidak begitu berniat membuat "sekuel" dari kumpulan puisi cinta saya yang berjudul "CINTA BRENGSEK" yang terbit di bulan Oktober 2010 lalu ini. Bulan Februari 2011 lalu pun, saya memutuskan untuk "vakum" sejenak dari kegiatan pementasan seni atau penerbitan karya karena saya ingin fokus pada perkuliahan saya yang saat itu sedang saya mulai kembali. Saya menikmati masa-masa "vakum" saya itu, di mana saya mulai "membuka diri kembali" untuk menjalin "perkencanan" (:p) dengan sejumlah orang, setelah lebih dari 1 tahun saya "menutup diri" dari "jalinan perkencanan" (hahahaha!).
Pada masa-masa penulisan "CINTA BRENGSEK", saya mengalami sejumlah kejadian memilukan, mulai dari kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang DJ ternama asal Jakarta terhadap saya hingga serangan para "haters" yang hampir tiada henti menyebarkan fitnah dan ancaman-ancaman yang keterlaluan kepada saya - yang menjadikan semua itu sebagai inspirasi terbesar untuk "CINTA BRENGSEK". Tapi, pada masa-masa penulisan "CINTA BRENGSEK 2: LELAKI MONSTER" ini, saya sama sekali tidak mengalami kejadian-kejadian memilukan seperti yang saya sebutkan tadi. Saya malah menikmati masa-masa "kasmaran" saya dengan pacar saya, bahkan dengan selingkuhan saya, para kecengan, serta teman-teman kencan saya lainnya. Selain itu, kuliah saya lancar dan hubungan saya dengan keluarga saya semakin harmonis. Gangguan para "haters" pun setidaknya bisa saya atasi secara pribadi. Jadi, "CINTA BRENGSEK 2: LELAKI MONSTER" sebenarnya hampir tidak sama dengan "CINTA BRENGSEK", yang mengangkat kejadian-kejadian memilukan dalam kehidupan saya sebagai inspirasi terbesar.
Lantas, apakah yang mendorong saya membuat "sekuel" yang diberi judul "CINTA BRENGSEK 2: LELAKI MONSTER" ini? Tentu saja, dalam kehidupan saya yang saat ini boleh dikatakan sedang "enjoy", saya mendapatkan banyak pengalaman yang bisa saya refleksikan ke dalam kumpulan puisi cinta "sekuel" ini. Saya telah menulis sejumlah puisi yang merefleksikannya, seperti puisi "Kekasihku" (yang terinspirasi dari pacar saya), "Pak Ompong", "Lelaki Monster", dan "Suatu Hari Nanti", yang melambangkan - bagi saya - bahwa betapa saya menikmati kehidupan saya yang sekarang. Saya merasa menemukan kebebasan yang selama ini saya berusaha maknai. Sejumlah orang pernah mengatakan kepada saya bahwa kebebasan dapat diraih bila kita mencapai kesuksesan secara finansial (kaya raya). Atau, kebebasan dapat diraih bila kita hidup di dalam lingkungan yang sangat kondusif dan mampu menerima perbedaan dengan sebaik-baiknya.
Ternyata, yang saya dapatkan adalah kebebasan itu diraih dari dalam pikiran sendiri, saat diri sendiri dapat memaknai hakikat dalam lingkungan sekitar dan kemampuan dalam meraih prestasi atau berkarya. Saya banyak menemukan kasus bahwa orang-orang yang sukses secara finansial banyak yang tidak merasa bebas, bahkan terhadap dirinya sendiri. Saya menemukan hal yang sangat jelas ini dari seseorang: dia begitu kaya raya, tapi dia sendiri tidak mampu membebaskan dirinya dari hal-hal sepele yang sebenarnya bisa dia tinggalkan. Saking terkekangnya, dia banyak menyiksa dirinya sendiri dengan selalu menganggap dirinya kesepian secara tidak jelas dan kurang berani menggali makna dari identitas tubuhnya sendiri.
Ya, semua kembali pada pemahaman terhadap diri sendiri. Banyak orang mempelajari orang lain, tapi selalu lupa mempelajari diri sendiri. Banyak orang sibuk mencari kesuksesan finansial hingga lupa mencari identitasnya sendiri. Saya, yang mungkin saat ini sedang hidup dalam situasi yang kondusif, merasa bersyukur telah -sedikitnya- memaknainya bagi diri saya sendiri. Walau keluarga saya penganut Islam dan teman-teman saya di kampus masih diskriminatif terhadap gender/seksualitas, tapi saya merasa damai-damai saja bersama mereka, bahkan sampai merasa sangat nyaman. Memang butuh proses dan segala hal butuh proses.
Maka, dengan kumpulan puisi cinta saya yang berjudul "CINTA BRENGSEK 2: LELAKI MONSTER", saya ingin sedikitnya merefleksikan kebebasan yang telah saya rasakan saat ini. Tak ada makna lain, selain (mungkin nanti) interpretasi dan apresiasi dari teman-teman sekalian terhadapnya.

