Mungkin sebagian dari teman-teman yang membaca note ini sudah tahu, bahwa pada bulan Agustus 2010 hingga Maret 2011, saya mengalami banyak penyerangan yang tidak bertanggungjawab secara bertubi-tubi lewat internet/facebook dari para haters (baca: musuh-musuh), yang hadir dari mana saja, bahkan tak jarang dari orang-orang yang sama sekali tidak pernah mengontak saya langsung di dunia nyata alias sama sekali tidak saya kenal atau sekiranya mengenal saya.
Hal ini berawal dari hubungan pertemanan saya yang berakhir dengan dua orang musisi di Bandung yang mengundang kontroversi karena ungkapan-ungkapan saya atas masalah tersebut via status facebook saya. Selain itu, saya juga sempat membahas sejumlah orang beragama yang saya nilai saat itu munafik dan "janggal" via status facebook saya, yang sebenarnya masalahnya masih berkaitan dengan hubungan pertemanan saya yang berakhir dengan dua orang musisi di Bandung. Tak ayal, status-status saya tersebut yang juga dominan menggunakan huruf kapital mengundang perhatian sejumlah orang yang tentu tidak saya sangka.
Perhatian yang mereka layangkan kepada saya tentu saja tidak saya sangka pula. Mereka merespon keras status-status saya dengan berbagai hinaan yang menjalar ke mana-mana, bahkan keluar konteks masalah yang sedang saya bahas di status facebook saya. Bentuk respon keras mereka pun bukan hanya menjalar keluar konteks via status facebook saya, tapi juga ke dalam "bentuk lain": mereka meneror saya via message inbox, membuat grup-grup facebook yang melontarkan kebencian terhadap saya - juga akun facebook palsu atas nama saya, bahkan sampai sms/telepon teror ke rumah.
Mereka menyatakan bahwa saya adalah "gay pembenci agama", "patut dipenggal", "serang pakai batu", "seperti Nurdin Halid", dan berbagai teror lainnya yang tentu saja cukup mengerikan (termasuk teror pembunuhan) dan sangat di luar konteks. Padahal, kalau dikaji ulang logika masalahnya, saya tidak melakukan apa-apa selain menulis status facebook di akun saya sendiri. Kalaupun saya berkomentar di wall orang lain, itu pun cuma sekadar komentar. Kenapa mereka bisa sampai begitu berlebihan? Komentar di facebook harus dibalas dengan teror-teror di dunia nyata atau dalam bentuk lain seperti itu (bahkan ada yang sampai mengatakan "harus dibayar dengan nyawa")? Kenapa mereka begitu mudah terprovokasi untuk melakukan tindakan di luar konteks? Padahal, bila saya telaah, para haters tersebut merupakan orang-orang yang berpendidikan, minimal mereka sedang kuliah - entah itu D3, S1, S2, atau S3, di PTN pula. Tidak pernahkah mereka diajarkan di bangku perkuliahan mereka untuk BERSIKAP SESUAI KONTEKS pada sebuah "diskusi"? Apalagi hanya "diskusi" di dunia maya yang mungkin tidak berarti apa-apa di dunia nyata?
Tindakan mereka makin lama makin keterlaluan. Saya sempat dikuntit oleh beberapa dari mereka sampai ke jalan dekat rumah, sampai ke Mall, dan ke manapun saya pergi. Bayangkan, sepenting itukah saya sehingga saya mendapatkan perlakuan "istimewa" dari orang-orang berpendidikan seperti mereka? Benarkah level komentar saya di facebook sudah seperti level komentar seorang SBY? Nurdin Halid? Britney Spears?
Lama-lama, saya memiliki ide untuk melawan balik serangan mereka sekaligus memaparkan kebenaran saya sendiri terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Saya membuat rubrik BULLSHIT ATTACK di blog resmi saya, untuk memberi bukti betapa para haters menyerang saya seenaknya dan di luar konteks. Saya mencantumkan bukti serangan mereka langsung di rubrik tersebut. Hasilnya? Setidaknya, serangan dari mereka mulai berkurang dan rubrik BULLSHIT ATTACK memiliki jumlah pembaca yang membludak. Bukan hanya pada rubrik tersebut, tapi jumlah pembaca/pengunjung blog/website saya ikut-ikutan membludak. Sebelum penyerangan para haters dan rubrik BULLSHIT ATTACK dicantumkan, blog/website saya hanya dikunjungi sekitar puluhan pengunjung saja perharinya - bahkan perminggunya. Tapi, setelah itu, jumlahnya sampai ratusan pengunjung hanya dalam waktu beberapa hari. Puncaknya adalah bulan Januari 2011, di mana jumlah pengunjung blog dan website resmi saya sampai ribuan. Saya tentu kaget melihat "site statistic" dalam keterangan di webmaster website/blog saya akan hal tersebut pada awalnya.
Ternyata, itu pun berdampak pada apresiasi terhadap karya-karya saya, mulai dari foto-foto pementasan hingga - yang paling signifikan - jumlah unduhan "Cinta Brengsek", kumpulan puisi saya yang diterbitkan pada bulan Oktober 2010 dalam format digital dan dapat diunduh via website/blog saya. Akibat penyerangan dari seorang haters yang menyatakan bahwa saya adalah "seorang psikopat", "Cinta Brengsek" diunduh sampai 200 kali lebih kurang dari 2 hari. Padahal, saat awal terbitnya, 1 minggu pertama "Cinta Brengsek" hanya diunduh sampai 10 kali saja.
Bukan cuma itu, saya juga mengalami "perubahan cerita hidup" yang drastis. Banyak dari teman-teman kencan saya yang "ingin berkencan" dengan saya karena mereka membaca perlakuan para haters terhadap saya dan "sampai penasaran" terhadap saya. Yang paling berpengaruh adalah kerukunan saya dengan keluarga saya. Sudah belasan tahun saya dan keluarga saya tidak pernah benar-benar akur. Akibat perlakuan haters yang di luar konteks tersebut, keluarga saya mengasihani saya dan berbalik melindungi saya dari serangan para haters. Mereka menganggap serangan para haters sudah di luar batas dan sebagai keluarga mereka mengaku patut melindungi saya dari serangan yang sama sekali tidak bertanggungjawab dari para haters. Padahal, keluarga saya adalah penganut Islam yang taat.
Saya jadi merenung, di balik semua serangan para haters, terdapat banyak keuntungan yang telah saya raih. Seorang teman konsultan diabetes asal Amerika mengatakan kepada saya, "Bad news sometimes is the best tool to promote the best." Apa yang dikatakannya memang benar adanya. Maka, setidaknya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua musuh saya di manapun mereka berada yang telah mengubah hidup saya menjadi lebih baik, lebih nyaman, dan lebih "kuat", di balik semua perlakuan mereka yang di luar konteks (baca: di luar batas). So, I love you, my stupid haters!

