Sabtu, 06 Agustus 2011

"American History X" (1998)

Saya tidak begitu tertarik dengan film ini pada awalnya. Menurut resensi yang pernah saya baca mengenai film ini, film ini mengandung banyak unsur kekerasan dan kata-kata kasar. Tapi, ketika iseng-iseng mampir ke toko film langganan saya, saya pun tiba-tiba berinisiatif untuk menonton film ini. Kenapa? Karena memang tidak ada lagi film yang bisa dibeli di sana oleh saya, kecuali film ini dan "City of God" (2002). Hampir semuanya tidak saya sukai atau setidaknya sudah saya tonton. Ternyata, kedua film yang saya pilih tersebut, termasuk film "American History X", adalah pilihan yang sangat tepat. Keduanya sama-sama memuaskan, menguras emosi, dan memberi kesan indah yang mendalam.

"American History X" mempertengahkan permasalahan rasisme yang terjadi di Amerika. Dengan mengambil sudut pandang dari dua pria bersaudara, Derek (diperankan oleh Edward Norton) dan Daniel (diperankan oleh Edward Furlong), film ini memiliki gaya bercerita yang nonlinier.

Dalam film ini, diceritakan bahwa Derek baru keluar dari penjara setelah 3 tahun ditahan karena membunuh 2 orang kulit hitam yang berusaha merusak mobil pemberian ayahnya (yang mati dibunuh oleh seorang kulit hitam beberapa tahun sebelumnya). Cara Derek membunuh kedua orang kulit hitam itu pun cukup kejam. Ia seolah meluapkan dendamnya yang sangat besar terhadap bangsa kulit hitam yang dinilainya "tidak berhak tinggal di Amerika", kebanyakan menjadi pelaku kriminal, dan seolah hanya menjadi parasit bagi negara Amerika Serikat, selain juga karena dendam pribadinya atas kematian ayahnya yang dibunuh oleh orang kulit hitam. Selain itu, ia pun membentuk grup yang menyuarakan kebencian terhadap orang kulit hitam bersama teman-temannya. Grup tersebut melakukan tindak kekerasan di toko milik orang non kulit putih. Mereka seolah berprinsip seperti "Nazi".

Di hari Derek dibebaskan dari penjara, guru bahasa Inggris Daniel menyuruh Daniel menulis paper tentang keberadaan Derek, kakak lelakinya itu. Ia menganggap bahwa Derek adalah orang yang cerdas dan potensial di masa sekolahnya, namun karena dendamnya yang sangat besar itu, telah mengubahnya menjadi sosok yang keras dan diskriminatif. Dari sinilah, penceritaan secara "nonlinier" atas berbagai penyebab sikap Derek selama ini dituturkan. Mulai dari doktrin dari ayah Derek dan Daniel atas orang kulit hitam yang dianggap curang, teman-teman Derek yang berandal dan tidak hidup dengan layak, sampai bagaimana kehidupan Derek selama di penjara yang mengubah pola pikirnya selama ini mengenai orang kulit hitam dan sikap diskriminatifnya. Semua itu dituturkan dengan dialog yang sangat bagus, kritis, realistis dan penuh makna, walau tentu dengan kata-kata kasar. Selain itu, terdapat unsur artistik yang cukup indah saat kenangan demi kenangan diceritakan, saat Derek mandi, dan saat bagian ending (yang menurut saya sangat mengharukan).

Film ini memberi pesan bahwa hidup terlalu pendek untuk terus diisi dengan kebencian. Saya sangat terkesan dengan hubungan persaudaraan antara Derek dan Daniel. Mereka begitu akrab, walau kadang diwarnai konflik, dan terasa begitu menyentuh. Pada kenyataannya, saya sering menemukan betapa banyak diantaranya para saudara laki-laki yang selalu melakukan persaingan dan ketidakcocokan yang sulit dipersatukan. Akhirnya saya melihat diri saya sendiri: betapa saya harus banyak bersyukur dengan keadaan saya sendiri, bahwa saya dan kakak lelaki saya memiliki hubungan yang sangat baik dan sangat dekat, walau kami memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Ah, lagi-lagi saya membahasnya. Ya, karena saya merasa harus banyak mensyukurinya. Oh iya, secara keseluruhan, film ini memang sangat indah dan menyentuh. Edward Norton pun meraih nominasi piala Oscar untuk kategori aktor terbaik atas film ini.




Rating for "American History X": 4 stars*

)* This is it:
1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars: Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars: Not Bad... (Lumayan...)

4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars: Very Good!! (Sangat Bagus!!)