Senin, 15 Agustus 2011

"Driving Miss Daisy" (1989)

Saya telah membeli film yang berjudul di atas sejak beberapa bulan yang lalu, namun hampir selalu lupa untuk ditonton. Hingga akhirnya, film ini selama berbulan-bulan hanya mengendap di tumpukan film-film koleksi saya di rak khusus di kamar saya. Tapi, malam ini saya memutuskan untuk menonton film yang ternyata begitu menghibur, menyentuh, sekaligus begitu indah untuk ditonton ini. Mengapa?

Malam ini saya tiba-tiba merasa begitu kesal. Beberapa hari terakhir, saya memang mengalami sejumlah masalah dan begitu mengusik pikiran dan perasaan. Ada yang sampai membuat saya susah tidur, hilang nafsu makan, dan bahkan sampai membuat saya berkeinginan untuk mencukur habis rambut di kepala saya. Malam ini, sepertinya adalah puncak dari kegalauan tersebut. Saya berguling-guling di kasur, menangis, mematikan handphone, dan tidak bisa tidur. Saya pun turun dari kamar menuju dapur, makan apapun yang bisa dimakan di sana, serta tiba-tiba memutuskan untuk menonton sambil menyantap makanan-makanan tersebut. Awalnya, saya ingin menonton film "Mean Girls" (2004). Itu pun alasannya tidak jelas, padahal film tersebut sudah saya tonton berkali-kali. Tapi, saat mencari film "Mean Girls", tiba-tiba saya menemukan film "Driving Miss Daisy" ini. Lantas, dengan tanpa basa-basi, saya membatalkan nonton film "Mean Girls" dan beralih ke film yang menjadi judul tulisan ini.

Ternyata, saya memang tidak salah pilih. Film ini berhasil mengembalikan mood saya menjadi lebih baik dan membuat pikiran saya lebih rileks. Bagaimana tidak? Film yang meraih 4 piala Oscar di era tahun 1989 ini adalah film drama romantis yang logis serta memiliki cerita yang cukup realistis - yang dikemas dengan sangat manis. Film ini menceritakan seorang perempuan tua keturunan Yahudi yang kaya raya yang mulai "rentan" kondisi pikirannya dikarenakan usia yang sudah uzur (hampir mendekati usia 90 tahun), namun senang bepergian. Suatu saat, perempuan tua yang bernama Miss Daisy tersebut (diperankan oleh Jessica Tandy) mengalami "keteledoran" saat akan mengeluarkan mobilnya dari garasi - yang hampir akan mencelakakan jiwanya.

Sang anak merasa khawatir dan akhirnya memutuskan untuk mencari supir pribadi untuk ibunya itu. Akhirnya, datanglah Hoke (diperankan oleh Morgan Freeman), seorang pria berkulit hitam yang usianya hampir 70 tahun, buta huruf, namun pandai mengendarai mobil. Miss Daisy, yang memang dikenal sebagai sosok yang keras kepala, penuh gengsi, angkuh, dan tipikal orang kaya yang sangat sombong, tentu saja tidak menyetujui rencana anaknya tersebut. Ia merasa "masih kuat" dan "tidak perlu supir".

Tapi, lambat laun, dengan berbagai cerita yang lucu, konyol, sekaligus cukup penuh petualangan, kondisi penolakan dari Miss Daisy pun mulai mencair. Miss Daisy mulai bisa akrab dengan Hoke, mengingat bahwa keduanya adalah dua latar belakang yang jauh berbeda. Dengan pengambilan gambar yang bagus, menampilkan keindahan alam di rumah-rumah mewah nan "jadul" di daerah Atlanta, Amerika Serikat, film ini begitu memikat. Dialog yang ditampilkannya pun mengalir lancar, tanpa bombastis kata-kata puitis, dan begitu natural. Akting Jessica Tandy pun begitu apik, dia mampu membawakan karakter perempuan tua seperti Miss Daisy. Sungguh perpaduan yang cukup sempurna.

Ending film ini pun begitu romantis, tapi cukup realistis. Saya jadi ingat perkataan seorang senior saya di klub teater yang pernah saya ikuti. Dia berkata, "Di usia segini (dia sudah berusia 60-an), bukan zamannya lagi mencari perempuan cuma untuk seks (kebetulan dia sudah lama bercerai dari istrinya). Tapi, lebih ke perhatian, kasih sayang, dan enak diajak ngobrol." Dalam film ini, dijelaskan bahwa "chemistry" cinta yang ada di antara Miss Daisy dan Hoke bukanlah getaran untuk berhubungan seks. Tapi, lebih kepada hubungan yang jauh lebih personal, seperti yang dikatakan senior saya tadi, lebih kepada perhatian, kasih sayang, dan enak diajak berkomunikasi. Ah, betapa hubungan tersebut begitu dewasa dan jauh lebih mendalam. Saya sangat tersentuh dengan esensi cerita di film ini, yang ternyata juga telah berhasil membuat mood saya menjadi lebih baik dan pikiran saya menjadi lebih rileks. Thanks, "Driving Miss Daisy"! (^_^)



Rating for "Driving Miss Daisy": 4 stars*

)* This is it:
1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars: Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars: Not Bad... (Lumayan...)

4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars: Very Good!! (Sangat Bagus!!)