Rabu, 14 September 2011

Krisis Identitas Gay "Berkualitas"

Oke, judul di atas mungkin bisa ditangkap dengan "mudah" oleh teman-teman yang membacanya, atau malah ditangkap secara "ambigu". "Berkualitas" macam bagaimana kah? Karena tentu bila dipikir ulang, ada sesuatu yang "berkualitas tinggi" dan ada pula yang "berkualitas rendah". Tapi, mungkin sebagian dari teman-teman sering mendengar bahwa kata "berkualitas" dikonotasikan pada sesuatu yang "lebih" (biasanya lebih baik). Misalnya, film itu sangat "berkualitas", yang bisa diartikan film tersebut sangat baik/bagus (padahal mungkin seharusnya ditambahkan dengan akhiran "baik", menjadi "berkualitas baik").

Maka, di sini, saya ingin membahas hal tersebut, kata "berkualitas" yang sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang lebih (baik?) yang akan saya kaitan dengan pengamatan saya selama beberapa waktu terakhir terhadap, lagi-lagi, kaum gay. Sekitar bulan Maret entah April 2011 lalu, saya sempat menulis sebuah note facebook yang berjudul "KEBODOHAN GAY INDONESIA" yang cukup menuai kontroversi. Di sana, saya menjelaskan pandangan saya terhadap sejumlah organisasi gay yang sangat terlihat sekali "berjualan" dengan "menjual isu hak minoritas" tanpa benar-benar memaparkan pengetahuan lebih dalam lagi mengenai gay, sejarah gay (di Indonesia), kaitannya dengan genetik, dll. Selain itu, saya juga menyorot sejumlah individu gay yang malah mendiskriminasi dirinya sendiri sebagai gay hanya karena ketidakmampuan menerima keberadaan diri.

Kontroversi yang dituai dari note facebook tersebut sempat menjadi bahan perbincangan antara saya dan sejumlah teman gay maupun non gay. Seorang teman mengatakan, "Lebih baik kamu sendiri saja daripada ikut bergabung dengan grup-grup seperti itu. Grup-grup seperti itu memang terlalu bodoh untuk diajak maju." Seorang teman yang lain lagi mengatakan, "Jangankan LSM atau organisasi gay, LSM atau organisasi yang menyuarakan hal lain juga tidak jauh beda seperti itu."

Lantas, tentu pendapat-pendapat seperti itu akan dianggap "skeptis" oleh seseorang yang bernama ANTOK SEREAN, seorang gay yang mengatai saya "tuan skeptis yang bodoh" serta mengaitkan "masturbasi" sebagai hal yang negatif yang tertuju pada saya karena note facebook tersebut. Padahal secara medis, masturbasi sangat disarankan untuk melepaskan aura negatif serta depresi. Masturbasi juga dapat menghindarkan diri dari resiko terkena kanker prostat. BAYANGKAN! Seorang gay yang "mengaku sebagai pejuang" di note facebook saya itu sampai MENGANGGAP MASTURBASI SEBAGAI HAL YANG NEGATIF! Saya jadi mengingat sejumlah orang yang sangat diskriminatif yang menganggap masturbasi sebagai hal yang negatif dan "dilarang" tanpa mereka sendiri mengetahui manfaat masturbasi. Jadi, dari contoh di sini saja sudah bisa saya jabarkan: seperti itu kah "pejuang gay"?

Baiklah, itu baru contoh pertama. Ya, saya kali ini mulai meragukan, bahkan mungkin sudah sangat meragukan, mereka yang menggembor-gemborkan hak-hak minoritas seksual bersama kelompoknya seperti iklan-iklan "gampangan" yang tersebar di jalan raya, di gang-gang sempit, atau di stasiun-stasiun TV. Lantas, beberapa bulan terakhir, saya menemukan hal yang sama pula. Saya menemukan 2 kasus yang "lucu". Observasi saya ini datang dari 2 ketua organisasi gay yang saya temukan.

Orang pertama adalah seorang ketua organisasi gay yang berbasis di Bandung. Saya mengenal orang ini pertama kali sejak tahun 2010. Kita sebut saja bernama Aria (bukan nama sebenarnya). Pertama kali bertemu dengannya, dia menjelaskan dengan cukup detail mengenai organinasi yang dipegangnya itu. Organisasi yang dipegangnya awalnya hanya beranggotakan 6 orang. Tapi, lama kelamaan, jumlahnya menjamur. Dia sendiri kadang kewalahan menanggulanginya. Tapi, dia mengatakan, "Karena grup kita memang untuk sekadar "have fun", dan gay itu kan memang sukanya "have fun". Jadi, jumlahnya menjamur." Aria adalah seorang psikolog.

Kemudian, pada bulan Maret 2011, grupnya diserang oleh sejumlah orang yang merasa dendam terhadapnya. Tak pelak, Aria sampai dicemarkan nama baiknya dengan cara dipamerkannya nomor hp pribadinya dan fotonya (yang paling buruk) di internet oleh para musuhnya, mulai dari di akun friendster, facebook, hingga manjam. Hal tersebut sempat menggegerkan organisasinya. Aria bahkan sampai membuat pernyataan, "Jadi gay, jangan nambah dosa!"

Saya jadi merasa heran, mengapa dia malah mengatakan pernyataan demikian? Akhirnya saya tanyakan secara pribadi padanya. Dia sendiri menjawab bahwa menjadi gay adalah dosa. WHAT? Aria memang seorang pemeluk agama Islam. Tapi, seberapa jauhkah pengetahuan dia mengenai Islam sebagai pemeluk Islam? Sehingga dia sendiri MALAH menjadi gay bila dia mengakui bahwa menjadi gay adalah dosa? Padahal, seorang teman gay saya yang merupakan salah satu anggota keluarga besar sebuah organisasi Islam terkemuka di Indonesia yang sudah berpacaran dengan pacarnya selama 16 tahun tidak pernah mengatakan bahwa menjadi gay adalah dosa, disertai dengan referensi yang dia miliki. Lalu, Aria pun seorang psikolog. Dalam sejumlah referensi yang saya temui, gay/homoseksual bahkan sudah dikeluarkan dari daftar gangguan kejiwaan. Jadi, ADA APA dengan Aria? Setelah saya perhatikan semakin dalam, Aria memang tidak beda jauh dengan anggota-anggota baru di organisasinya. Dia sendiri masih merasa kebingungan dengan identitas seksualnya sendiri. Dia mengatakan menjadi gay adalah dosa, tapi dia sendiri hampir setiap hari "menikmati para pria" dengan berbagai cara, mulai dari hanya sekadar kopi darat di daerah dekat kantornya hingga liburan di berbagai tempat wisata di Indonesia. Saya pun mulai mengerti mengapa Aria sampai dimusuhi dengan cara seperti itu oleh musuh-musuhnya. Dia sering memamerkan pada anggota-anggota organisasinya bahwa dia adalah seorang ketua gay yang patut dihormati, karena dialah "sang pendiri" tanpa ada embel-embel lainnya, yang (seharusnya) lebih "ngeh" (?).

Orang kedua adalah seorang ketua organisasi gay di sebuah kota di Jawa Timur. Kita sebut saja bernama Hendra (bukan nama sebenarnya). Saat melihat sosoknya, saya menafsirkan bahwa dia adalah orang yang memiliki banyak kemudahan dalam hal mengakses identitas gay. Organisasi yang dia pegang mungkin masih terbilang baru, alias belum begitu lama berdiri. Melihat identitasnya lebih jauh di akun facebooknya, dia menjelaskan bahwa organisasi gay-nya ditujukan untuk memuat informasi mengenai identitas gay. Saya pun membaca blog-nya, isinya memang tidak jauh seperti itu.

Tapi, lama kelamaan, saya melihat sesuatu yang janggal padanya. Dalam sebuah pernyataannya, dia mengatakan rasa frustasinya karena selama 23 tahun hidup di dunia, dia tidak pernah berpacaran dengan siapapun. Kemudian, dia pun "menyalahkan tuhan" karena hal tersebut. WHAT? Saya pun sempat mengetahui bahwa bahan skripsi yang sedang dia kerjakan saat ini adalah mengenai homoseksualitas. Selain itul, secara fisik, Hendra tidak begitu buruk. Foto-foto profil yang ditampikan di facebook-nya pun hampir selalu saat dia berpose di tempat fitnes sambil memamerkan bentuk tubuhnya yang juga tidak begitu buruk (bahkan ada juga yang saat dia bertelanjang dada di kamar mandi). Tapi, mengapa secara pribadi dia malah seperti itu terhadap dirinya sendiri?

Seorang teman yang tinggal di luar negeri, yang merupakan teman Hendra, mengatakan pada saya bahwa Hendra masih memiliki konflik dengan keluarganya perihal identitas seksualnya. Bahkan, katanya Hendra "semakin dipaksa" agar "berubah" menjadi heteroseksual, padahal dalam blog yang ditulisnya, Hendra sudah bolak-balik ke sejumlah psikiater dan "tetap tidak berhasil" mengubah orientasi seksualnya.

Melihat kedua contoh orang ini, bagi saya cukup ironis. Mereka "dengan berani" membuat organisasi-organisasi minoritas seksual yang seolah menyuarakan hak minoritas seksual untuk "have fun", berdiskusi, dan berbagi referensi. Lantas, baik secara langsung maupun tak langsung, mereka sudah menidentifikasikan diri mereka sendiri sebagai seorang gay yang "coming out" dan bisa jadi merupakan seorang gay "yang berkualitas"(?), karena masih banyak sekali kaum minoritas seksual yang belum berani atau belum mampu "coming out" seperti yang mereka lakukan atau bahkan membuat organisasi seperti itu. Tapi, melihat kenyataan hidup mereka secara pribadi memang sangat ironis. Mereka seolah membuatnya "secara terpaksa", baik itu karena "kepepet pengen senang-senang" atau kompensasi akibat diskriminasi yang mereka alami. Tentu tidak ada salahnya mereka membuat organisasi seperti itu. Tapi, bagi saya, perlu kesiapan yang kuat terlebih dahulu. Bagaimana mungkin bisa "mengajak sesama" menuju "jalan yang merdeka" kalau mereka sendiri secara pribadi sama sekali "tidak merdeka"?

'Merdeka" di sini saya sempitkan menjadi merdeka pada pikiran pribadi. "Coming Out" dan penerimaan dari orang sekitar memang hal yang tidak bisa dianggap enteng bagi minoritas seksual. Butuh keputusan yang kuat dan berani untuk menjalaninya. Tapi, minimalnya saja, untuk diri sendiri, pikiran sudah merdeka, menganggap menjadi gay itu tidak salah, dan menggali referensi sebanyak mungkin mengenai identitas seksual. Ya, lagi-lagi, kesadaran membaca memang perlu semakin digalakan bagi setiap pribadi dalam menghadapi dirinya sendiri, baik itu kaum heteroseksual, homoseksual, biseksual, maupun aseksual. :)