Selasa, 20 September 2011

"Kylie: Aphrodite Les Folies 3D": Sarat dengan Unsur Gay

Saya menonton konser "Kylie: Aphrodite Les Folies 3D" di bioskop Blitzmegaplex Paris Van Java (PVJ), Bandung, sejak pukul 19:15 WIB sampai 21:15 WIB tadi (19 September 2011). Seusainya, saya ingin sekali meresensikannya, karena ada sejumlah hal yang ingin saya utarakan mengenai konser musik yang dibuat menjadi film bioskop berformat 3D tersebut. Awalnya, saya ingin meresensikannya sambil makan malam di KFC PVJ, alias masih satu daerah dengan bioskop tersebut. Namun, mengingat hari sudah cukup malam dan jalur angkutan kota di daerah PVJ tidak strategis menuju rumah tempat tinggal saya, maka saya putuskan untuk pergi ke KFC "M". KFC "M", selain buka selama 24 jam, jalur angkutan kota yang strategis menuju rumah tempat saya tinggal pun masih banyak berlewatan di sana.

Maka, setelah saya memesan makanan dan minuman serta menghabiskannya, saya pun menyalakan laptop, memasang modem, dan membaca sejumlah notifikasi yang ada di akun facebook saya. Belum sempat saya membuka aplikasi note facebook untuk meresensikan konser Kylie Minogue tersebut, tiba-tiba seseorang menghampiri meja tempat saya makan/minum dan membuka laptop di kafe tersebut. Dia bukan cuma menghampiri, tapi juga duduk tanpa permisi dan menjulurkan tangan, sambil menyapa saya. Saya pun terkejut. Ternyata, dia adalah "mantan" saya yang saat itu BERHASIL membuat saya trauma akan hubungan asmara sehingga saya memutuskan menjadi aseksual selama lebih dari 1 tahun.

Dengan sikapnya yang "sok akrab" itu, dia pun tersenyum. Saya langsung kesal dan cepat-cepat mengusirnya, "Get out!" Ekspresi wajahnya berubah, dari yang tadinya tersenyum manis, menjadi masam dan akhirnya meninggalkan meja tempat saya itu. Mood saya berubah, saya jadi malas meresensikan konser yang menjadi judul note facebook ini. Sekitar setengah jam kemudian, saya meninggalkan kafe tersebut dan bergegas pulang ke rumah. Perasaan saya kacau dan ingin rasanya menampar muka "mantan" saya tadi di hadapan orang-orang di kafe tersebut.

Betapa beraninya dia bersikap "sok akrab" seperti itu! Apakah dia lupa perbuatan dia terhadap saya? Apakah dia menganggap BUKAN APA-APA akan traumatik saya terhadap hubungan asmara karena perbuatan dia di masa lalu? APAKAH DIA LUPA akan kata-kata terakhirnya kepada saya saat itu? Dasar bajingan! Tidak tahu malu! Begitulah gerutu saya dalam hati selama perjalanan menuju pulang ke rumah.

Sampailah saya di rumah. Setelah cuci kaki, mengganti baju, dan kembali menyalakan laptop, mood saya untuk meresensikan kembali muncul. Saya pikir, meresensikan konser tersebut dengan menceritakan apa yang terjadi tadi mungkin ada kaitannya. Kenapa? Oke, akan saya jelaskan di bawah ini.

KFC "M" (saya enggan menyebutkannya secara lengkap) bisa dikatakan merupakan kafe fast food yang paling ramai dikunjungi oleh kaum gay di Bandung, apalagi di malam minggu. Dengan tegas, saya bisa katakan bahwa, dari pandangan saya, gay yang datang ke sana kebanyakan adalah gay-gay "alay" dengan kostum yang berlebihan dan sikap yang seolah "membanggakan" ke-gay-annya dengan cukup berlebihan pula. Malam minggu kemarin, seusai bertemu dengan seorang teman seniman muda di Pusat Kebudayaan Prancis di Bandung, saya mampir ke KFC "M" untuk membuka laptop dan mengunggah foto-foto saya dengan teman seniman muda itu ke facebook, selain juga untuk makan malam. Ternyata, ada 2 pria dengan kostum yang "sangat gay" (dan saya yakin mereka adalah gay) memperhatikan saya dari meja mereka secara aneh. Lama-lama, perhatian yang mereka layangkan lewat lirikan mata mereka pun menjadi sangat merisihkan.

Mereka berdua, yang berperawakan kurus kering, kaos "emo", celana pendek, dan sandal jepit norak, kemudian secara tibat-tiba menghampiri dan duduk di meja tempat saya berada di kafe tersebut dan dengan SANGAT TIDAK SOPAN, semakin melirik saya. Saya jelas-jelas menjadi tambah risih dan sangat kesal. Saya membalik memperhatikan mereka berdua, dengan pandangan yang kesal, yang kemudian membuat mereka akhirnya meninggalkan meja saya.

Kejadian seperti ini memang bukan yang pertama kalinya menimpa saya di kafe fast food seperti itu, dan bukan apa-apa pula bila dibandingkan dengan apa yang pernah saya alami beberapa bulan sebelumnya. Ya, mereka adalah gay-gay norak yang sangat tidak bisa menempatkan diri di ruang publik seperti itu. Saya rasa, etika berkenalan setidaknya PERNAH DIAJARKAN di sekolah-sekolah dan sepertinya kaum gay seperti itu adalah kaum gay yang pasti sekolah. Kalau mereka ingin mengajak berkenalan dengan saya, tentu bukan dengan cara seperti itu. Atau kalau mereka memang hanya ingin iseng dan mencari gara-gara, mereka sepertinya tidak punya ruang apresiasi lain dalam kehidupan mereka.

Lantas, ketika saya menonton konser Minogue di Blitz, ruang auditorium yang memutar konser tersebut sepi pengunjung, padahal pemutarannya "limited screening", alias diputar secara terbatas. Jumlah penontonnya hanya sekitar 7 orang. 2 di antaranya adalah perempuan dan sisanya adalah laki-laki. Laki-laki yang menonton konser tersebut pun saya lihat seperti kaum gay. Mulai dari bahasa tubuh hingga gaya berbicara. Tapi, kostum yang mereka kenakan tidak berlebihan seperti kaum gay "alay" di KFC "M". Kostum mereka standar-standar saja, cukup rapi, dan cukup enak dipandang mata. Usia mereka pun terlihat sekitar 25 tahun ke atas.

Konser yang direkam dari tur Minogue yang berlangsung di London selama 2 malam yang kemudian dirangkum menjadi 2 jam pemutaran film dalam format 3D di bioskop itu sarat dengan unsur gay. Banyak visualisasi pria-pria telanjang dada yang bertubuh atletis. Selain itu, penari-penari latar prianya pun seolah "dirancang" untuk memunculkan unsur-unsur gay yang kuat. Minogue memang dikenal sebagai penyanyi pop Internasional yang "dianugerahi" menjadi ikon gay oleh banyak media, termasuk para penggemarnya. Minogue sendiri pernah mengaku bahwa dia sangat senang dianggap sebagai ikon gay dan penggemar-penggemar gay-nya seolah "mengadopsinya" untuk menjadi ikon gay.

Sebagai penyanyi pop Internasional, saya rasa Minogue memang pantas disebut sebagai ikon gay. Musik-musik pop yang ditampilkannya memang terdengar "sangat gay", belum lagi video-video musiknya, termasuk konsernya ini. Dalam konsernya ini, dirancang dengan setting "zaman Romawi", Minogue membawakan lagu-lagunya dalam album studio terbarunya yang berjudul "Aphrodite" serta hit-hitnya di masa lampau. Minugue tidak melakukan "lip-sync" seperti yang dilakukan Britney Spears dalam konser-konsernya. Minogue, dengan kualitas vokal yang cukup prima, mampu membawakan lagu-lagunya dengan cukup baik, walau dengan koreografi yang lincah. Hello, Britney. You should be like her!

Perubahan kostum demi kostum dan segmen demi segmen pun terasa tidak membosankan dan cukup menghibur. Minogue mungkin bukan ikon gay yang cerdas atau "berkualitas", tapi setidaknya konsep Minogue dalam menghibur cukup tergarap dengan rapi dan baik. Minogue mengajarkan pada para penggemar gay-nya untuk menikmati musik dengan nyaman dan "bahagia".

Saya pun kembali memperhatikan para pria yang menonton konser 3D tersebut di ruang auditorium itu. Mereka terlihat seperti kaum gay yang bukan sembarangan. Mereka cukup serius menontonnya dan "stay" sampai akhir dengan tenang. Setelah memperhatikan mereka lebih detail satu per satu saat keluar dari ruang auditorium, mereka sepertinya memang sosok-sosok yang serius, yang berkostum rapi, enak dipandang, dan tidak berlebihan. Cukup ironis memang bila dibandingkan dengan jumlah gay yang membludak di KFC "M" - yang jelas-jelas tidak menonton konser 3D ini (entah karena tidak tahu atau tidak mau peduli atau yang mereka tahu cuma Lady Gaga yang "lebay"), yang berkostum berlebihan dan tidak punya tata krama terhadap orang yang sama sekali tidak mereka kenal.




Rating for "Kylie: Aphrodite Les Folies 3D": 4 stars*

)* This is it:
1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars: Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars: Not Bad... (Lumayan...)

4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars: Very Good!! (Sangat Bagus!!)