Jumat, 21 Oktober 2011

"Crossroads" (2002): Film yang Bersejarah Bagi Saya!

Saya memang sering meresensikan film-film yang berkualitas baik, misalnya film-film pemenang penghargaan atau film-film yang banyak dipuji oleh para kritikus film. Selain itu, selera film saya pun bisa dikatakan "enggan nonton film yang jelek", misalnya film-film pemenang Razzie Awards atau kebanyakan film Indonesia. Oke, saya memang bukan pakar film, apalagi kritikus film yang profesional. Tapi, sebagai penikmat film, boleh saja saya memiliki selera yang "tidak gampangan". Saya sangat teliti ketika memutuskan membeli atau menonton suatu film. Saya sangat selektif. Bahkan, saya tidak peduli bila berjam-jam saya "nongkrong" di toko-toko penjualan film yang akhirnya hanya sekitar 1-2 film saja yang saya beli, saking saya teliti memilihnya (hey, ini tentu tidak ada kaitannya dengan isi dompet saya). Atau saya rela tidak ke bioskop selama berbulan-bulan kalau tidak ada film yang "patut" saya tonton.

Lantas, bagaimana dengan film "Crossroads" (2002) yang akan saya ulas ini? Yang telah saya beri keterangan pada judul di atas bahwa film ini adalah film yang "bersejarah" bagi saya? Mungkin sebagian teman-teman akan menganggapnya ironi. Bagaimana bisa hal tersebut terjadi? Film debut Britney Spears sebagai pemeran utama ini adalah salah satu film pemenang Razzie Awards dan banyak dicaci-maki kritikus. Ini juga bisa dikatakan bahwa Spears sedang "aji mumpung" dengan film ini - yang ternyata bisa dikatakan pula bahwa Spears cukup gagal. Tapi, ini tak seburuk Mariah Carey dalam "Glitter" (2001). Walau demikian, tetap saja dapat mengherankan: bagaimana bisa film "Crossroads" ini bersejarah bagi saya?

Oke, akan saya jelaskan. Saya memang merupakan salah satu penggemar Britney Spears. Sudahlah, saya enggan menjelaskan mengapa saya menyukainya, karena hal ini sempat menjadi perbincangan yang konyol dari sejumlah seniman muda yang "sok kritis" di Bandung. Katanya, "Kamu ini sering perform dengan konsep yang kritis, tapi kok malah suka sama Britney Spears yang karyanya sampah gitu?" STOP! You know, I have my own right to like whatever! Tapi, hal ini tidak begitu berkaitan dengan mengapa film ini mampu bersejarah bagi saya.

Pada suatu hari di bulan April 2002 adalah pertama kalinya saya menonton film ini setelah meminjamnya dari tempat penyewaan film VCD bajakan. Tapi, saya merasa biasa saja dengan film ini. Tidak ada kesan berlebih, bahkan hampir saya lupakan. Lantas, alasan yang berikut inilah yang akan membuat teman-teman (mungkin) mengerti mengapa film ini bersejarah bagi saya:

Saat itu, sepulang dari kampus di hari pertama kuliah, tepatnya di bulan September 2006, saya mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan di dekat kampus saya. Hey, kampus saya memang terletak di "jantung" kota Bandung alias di pusat kota Bandung. Maka, cukup mudah bagi saya menemukan pusat perbelanjaan yang cukup lengkap dan elit, termasuk untuk menemukan film ini. Film ini terdapat di sebuah toko buku, yang ternyata juga menjajakan kaset, VCD, dan DVD. Di sana, film "Crossroads" yang berformat VCD orisinil dijual diskon dan HANYA 5 RIBU RUPIAH! Tentu saja saya langsung membelinya. Selain karena saya sudah menjadi penggemar Spears sejak SMP kelas 2, keinginan untuk memiliki filmnya pun tentu sudah lama saya impikan.

Sejak membelinya di hari itu, saya tidak pernah berhenti menontonnya setiap hari. Selain itu, saya menemukan kemiripan cerita yang sama dengan apa yang saya alami saat itu. Oke, lagu soundtrack yang SEBENARNYA untuk film ini seharusnya bukan "I'm Not a Girl, Not Yet a Woman", tapi "OVERPROTECTED". Film ini menceritakan sosok Lucy yang diperankan oleh Spears yang menjadi siswa teladan, anak baik-baik, tapi benar-benar tidak menikmati masa-masa SMA-nya. Dia dikekang oleh ayahnya untuk tampil sempurna sebagai anak baik-baik dan siswa teladan. Lucy bahkan tidak pernah diberi jawaban yang pasti akan angan-angannya selama ini, termasuk angannya untuk mengetahui keberadaan ibunya yang sudah lama meninggalkannya sejak Lucy berusia 3 tahun.

Saya merasakan hal yang sama pada saat itu, walau tentu saja ceritanya berbeda. Saat itu, saya "dipaksa" untuk tinggal di rumah kakak kedua saya di Bandung. Padahal, keinginan saya adalah menyewa kamar kost saja daripada tinggal di rumah tersebut. Mengapa? Saya selalu tahu, kehidupan rumah tangganya begitu mengerikan. Saya tidak mau ketimpa aura negatif dari rumah tangganya. Saya rasa saya sudah selayaknya memiliki kehidupan sendiri dan membebaskan diri saya menjelajahi hal-hal yang belum saya jangkau di masa-masa awal kuliah. Ya, misalnya dengan menyewa kamar kost. Saya ingin sekali merasakannya dan itulah impian saya di masa SMA.

Tapi, berbagai kecaman datang dari kakak kedua saya. Katanya, kost-kostan itu tidak enak, banyak gangguan, dan banyak hal yang pasti tidak diinginkan. Lebih baik saya tinggal di rumah yang cukup besar dan mewah milik kakak kedua saya itu, karena lingkungannya aman dan saya "bisa dibimbing" oleh kakak kedua saya selama tinggal di Bandung. Tentu saja saya yang waktu itu masih remaja berusia 18 tahun tidak bisa memilih lagi. Tapi, film ini menginspirasi saya untuk memberontak atas keputusan tersebut - yang hasilnya membuat saya tetap tinggal di rumah tersebut dan terkena diabetes.

Awal kuliah adalah masa-masa yang mengerikan bagi saya. Bukan karena kehidupan di kampus, tapi karena kehidupan di rumah tersebut. Saya dijadikan pembantu gratis oleh kakak kedua saya dan suaminya. Makan saya pun dibatasi. Saya tidak boleh pulang lebih dari jam 6 sore, walaupun ada jadwal kuliah atau jadwal dari kampus yang membuat saya harus pulang lewat dari jam itu. Saya tidak boleh ke warnet. Saya harus banyak membantu rumah tangga kakak kedua saya, misalnya mengasuh ponakan-ponakan saya, mulai dari menggantikan baju hingga menyuapi mereka makan, kemudian menyiram taman depan rumah, menjemur dan mencuci pakaian, dll. Selain itu, saya pun "banyak dicuci otak" oleh mereka berdua atas kehidupan mereka yang makmur (?), agar saya "menyembah" mereka.

Ya, kehidupan rumah tangga kakak kedua saya memang sangat mengerikan. Mereka bukanlah orang-orang yang jahat, melainkan orang-orang yang bingung dengan rumah tangga mereka sendiri. Mereka seolah tidak siap untuk menjalani kehidupan rumah tangga, walau jumlah anak mereka berdua sudah sampai 3. Kini, setelah saya menyadari betapa saya SUDAH DIKORBANKAN untuk rumah tangga mereka di masa itu, yang mengakibatkan tubuh saya TERKENA DIABETES yang bahkan dalam keluarga besar kami tidak ada faktor keturunan diabetes, sudah saatnya saya BENAR-BENAR MEMBERONTAK pada mereka, bahkan JANGAN SAMPAI SAYA MEMPEDULIKAN HIDUP MEREKA LAGI! Mereka adalah sekumpulan aura negatif karena kebodohan mereka sendiri. Dan, film ini adalah sebuah saksi dan sebuah sejarah penting bagi saya untuk tetap menyadari bahwa saya memegang hidup saya sendiri dan saya tidak boleh dibutakan oleh hal-hal yang "bercahaya" hingga lupa bahwa ada "kegelapan" yang akan menyerang saya kemudian.





Rating for "Crossroads": 5 stars*

)* This is it:
1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars: Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars: Not Bad... (Lumayan...)
4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars: Very Good!! (Sangat Bagus!!)