Banyak orang yang tidak bisa menikmati kesendirian. Bukan cuma tidak bisa menikmati, tapi juga sampai merasa terganggu bahkan menghindari kesendirian. Mereka beralasan bahwa sendiri itu tidak enak, "autis", dan bahkan dengan skeptis diartikan sebagai "teralienasi" atau "mengalienasi diri" dari lingkungan sekitar. Saya yang sempat mempelajari pengaruh arus urban menyimpulkan bahwa tanggapan seperti itu hadir akibat pengaruh kapitalisme dan doktrinasi penguasa yang korup yang menginginkan "banyak orang" berkumpul demi "keuntungan" sang penguasa. Jadi, "semakin banyak orang yang terpengaruh, maka semakin banyak keuntungan yang diraih", yang membuat banyak orang serasa "harus" berkumpul tapi entah esensi apa yang didapatkan dari "berkumpul" itu. Maka, kesendirian pun seringkali diartikan negatif. Kenapa pula? Dengan kesendirian, biasanya renungan dan kesadaran akan keberadaan diri di dunia luar muncul yang tentu seringkali bisa "merusak rencana" sang penguasa yang korup itu.Mungkin cukup skeptis pula bila saya menyimpulkan demikian. Tapi, apa salahnya juga? Saya masih bisa mempelajarinya terus, ke berbagai hal, termasuk pada album musik karya Kylie Minogue yang berjudul "Impossible Princess" (1997) yang akan saya ulas ini. Saya menangkap banyak hal atas makna kesendirian dalam album yang disebut-sebut sebagai album Minogue yang paling tidak sukses di pasaran namun juga disebut-sebut sebagai album terbaik Minogue oleh banyak kritikus musik ini. Bukan cuma itu, banyak kritikus musik yang menilai bahwa album ini merupakan salah satu album "pop masterpiece" yang hilang.
Dalam proses pembuatan album ini, Minogue banyak dibantu oleh Stéphane Sednaoui, seorang fotografer asal Prancis yang sering melahirkan karya-karya yang eksperimental di dunia musik pop, khususnya dalam pembuatan video klip. Sednaoui, yang pernah bekerja sama dengan Bjork dalam beberapa video klipnya - dan pernah memacarinya, juga memacari Minogue selama proses pembuatan album ini. Sednaoui banyak membiarkan Minogue mengekspresikan dirinya sendiri sebagai proses eksplorasi dalam penggarapan setiap lagu pada album ini.
Untuk pertama kalinya sepanjang karirnya, Minogue benar-benar "bertelanjang bulat" atas jiwanya pada setiap lagu di album ini. Minogue lebih banyak menceritakan dirinya sendiri, khususnya mengenai bagaimana dia memaknai kesendirian. Seperti pada lagu "I Don't Need Anyone", Minogue menceritakan kekecewaannya terhadap seseorang di masa lalunya yang meninggalkannya, setelah bercumbu mesra dengannya. Berikut petikan liriknya, "Your signature/Is on my hip/A kiss from you/Still on my lips/I am entire/I am finally one/But the moments/Is long gone". Setelah itu, Minogue pun mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan siapapun kecuali pada orang-orang yang tidak dia kenal. Hal ini dia tonjolkan pada bagian "chorusnya", yaitu, "I don't need anyone/Except for someone that I don't know/I don't need anyone/Except for someone I've not found". Hal ini bisa diartikan bahwa Minogue lebih baik sendiri dan tidak membutuhkan siapapun kecuali orang yang "baru" daripada tetap meratap akibat seseorang yang meninggalkannya itu.
Hal yang serupa pun Minogue ungkapkan pada lagu "Some Kind of Bliss". Dalam liriknya, Minogue menjelaskan bahwa lebih baik dia sendiri saja, karena dengan sendiri, dia bisa menikmati "ruangnya sendiri" dan tidak menjadi takut pada "rasa takut". Berikut petikan liriknya, "Good to be here/Time to be alone/I've found a space where I belong/Not succumb to fear". Hal ini diakibatkan karena seseorang yang mungkin sebagai kekasihnya terasa terlalu menyakitkan (atau menakutkan?) baginya. Minogue menjelaskannya pada petikan lirik berikut, "Shut my eyes/Feel the colour of you/Succumb to this illusion/So strong so deep".
Bukan cuma di dua lagu yang saya ulas barusan, tapi juga di hampir semua lagu pada album ini, Minogue menceritakan bagaimana dia memaknai kesendirian. Minogue menyatakan bahwa kesendirian adalah sesuatu yang sangat berharga, yang bisa membuatnya mendapatkan ruang-ruang yang bisa dia jangkau pada dirinya sendiri serta menjadi kritis terhadap keadaan hidupnya karena seseorang yang cukup intim dengannya, yang ternyata banyak menyiksa perasaannya hingga dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari belenggu tersebut. Bukan hanya dari segi lirik, dari segi musikalitas pun, Minogue benar-benar unjuk gigi. Dia mencampurkan banyak unsur musik, bukan hanya pop standar, tapi juga unsur jazz, "experimental pop", dan "electro pop". Mood yang dibawakannya pun sangat pas, seolah begitu kelam dan "gloomy", yang membuat album ini sangat pantas disebut sebagai album terbaik Minogue sepanjang karirnya.
Saya sering mendengar di berbagai forum diskusi film, bahwa orang-orang di negara maju lebih banyak yang bisa menikmati kesendirian sehingga mereka banyak melahirkan karya-karya yang luar biasa bagi peradaban manusia. Berbeda dengan mereka yang lebih suka berkumpul dengan tidak jelas esensinya (khususnya kalangan masyarakat urban Indonesia yang saya sorot), konsentrasi mereka kabur sehingga mereka kehilangan identitasnya sendiri dalam perkumpulan tersebut. Mereka banyak membuat rencana-rencana yang omong kosong dan hampir tanpa esensi yang dalam, atau hanya bisa menguntungkan individu tertentu - yang itu pun tidak mereka sadari. Ya, dengan memaknai kesendirian, seringkali lahir karya-karya yang luar biasa dalam peradaban manusia. Termasuk dengan album terbaik Minogue ini. Jadi, kenapa harus takut dengan kesendirian? Kenapa harus menganggap negatif pada kesendirian? Sudah selayaknya orang-orang berpikir ulang tentang kesendirian, khususnya bagi mereka yang lebih suka berkumpul secara tidak jelas dan "merasa keren" dengan perkumpulan yang "dangkal esensinya" itu.
Rating for "Impossible Princess": 4 stars*
)* This is it:
1 stars : So Bad!! (Sangat Buruk!!)
2 stars: Still Bad... (Masih Buruk...)
3 stars: Not Bad... (Lumayan...)
4 stars : Good... (Bagus...)
5 stars: Very Good!! (Sangat Bagus!!)

