Senin, 24 Oktober 2011

Saya Ingin Sekali Menjadi Seniman

"IBS, kamu tuh udah jadi seniman. Kamu kan sering perform. Performance kamu juga aneh-aneh."

"IBS, kamu emang seniman. Karya-karya kamu juga provokatif. Keren lah."

"Kok pengen jadi seniman? Jadi selama ini kamu gak nganggap diri kamu seniman? Jadi buku-buku puisi kamu itu apa? Jadi performance-performance kamu itu apa?"

Kalimat-kalimat seperti itu sering terlontar dari segelintir teman saat saya dan mereka sedang membicarakan karya-karya pementasan saya sepanjang tahun 2010 hingga pertengahan 2011 lalu. Saat ini, saya memang memutuskan untuk benar-benar vakum dari kegiatan pementasan apapun, mulai dari pembacaan puisi, "dance performance", hingga "performance art". Alasan utamanya adalah saya ingin konsen menyelesaikan perkuliahan saya yang tinggal sebentar lagi. Selain itu, saya pun sudah mulai jenuh dengan "debu panggung" dan butuh rehat sejenak darinya.

Tapi, jujur saja, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya tidak pernah merasa bahwa saya adalah seorang seniman. Saya hanya menganggap diri saya selama ini sebagai seseorang yang menyukai kesenian dan menjadikan kesenian sebagai wadah mengekspresikan diri. Tentu konteks ini berbeda dengan konteks seniman. Kenapa? Pertama, saya tidak memiliki basis seniman dari segi pendidikan formal. Saya kuliah di jurusan Ilmu Komputer. Kedua, saya merasa pengetahuan saya mengenai kesenian masih harus terus digali. Saya belum ada apa-apanya, apalagi bila dibandingkan dengan sahabat saya, Mimi Fadmi, yang merupakan seniman berprestasi di Indonesia yang karyanya sudah dikenal di dunia internasional. Ketiga, "jam terbang" saya - yang itu pun dalam menjadikan kesenian sebagai wadah ekspresi diri - masih belum begitu lama dan belum begitu padat atau "matang". Keempat, dalam menulis pun, saya merasa saya bukan apa-apa sama sekali. Oke, saya sudah menerbitkan sejumlah antologi puisi tunggal dan antologi bersama, memenangkan lomba menulis puisi, serta puisi-puisi saya pernah dimuat di media massa Indonesia, tapi apakah itu SUDAH CUKUP untuk membuat saya menjadi seorang seniman? Bagi saya, tidak sama sekali.

Setelah saya pelajari sampai sejauh ini, menjadi seorang seniman adalah sebuah perjalanan yang panjang dan menantang. Seniman harus bisa membuat apapun yang ada di sekitarnya menjadi inspirasi dalam berkarya, baik itu menjadikannya sebagai medium atau hanya sekadar penambahan ide dalam karya. Inilah yang membedakan antara menjadi seniman dan sejumlah "profesi" lainnya. Pada "profesi" tertentu, mungkin hanya sejumlah hal yang spesifik saja yang bisa dijadikan medium. Tapi, seniman tidak. Seniman bisa menggunakan apa saja sebagai medium dan inspirasi dalam berkarya.

Nah, inilah yang membuat saya begitu tertarik dengan kesenian dan ingin sekali menjadi seniman: apa saja bisa dijadikan medium dan inspirasi dalam berkarya. Tapi, ternyata, setelah saya pelajari kembali pun, menjadikan apa saja sebagai medium dan inspirasi dalam berkarya bukanlah hal yang mudah. Ada yang lebih penting dari itu: kepekaan. Seorang seniman harus peka terhadap banyak hal, harus banyak "membaca", dan harus secerdas mungkin "memanfaatkan" peluang untuk berkarya. Alias, seorang seniman harus berproses dengan dirinya sendiri serta dunia luarnya untuk melahirkan karya.

Selain itu, seorang seniman pun sudah seharusnya melakukan "profesionalisme" yang tinggi untuk karyanya. Dia harus bisa membedakan mana kehidupan pribadi dan mana kehidupan karyanya, walau keduanya tentu bisa saling berkaitan. Betapa kompleksnya menjadi seorang seniman. Iya, memang demikian. Kata siapa menjadi seorang seniman, apalagi seorang seniman yang "sebenarnya" adalah hal yang mudah?

Saya suka sekali membaca proses kreatif sejumlah seniman untuk melahirkan karyanya. Misalnya, penyanyi favorit saya, Bjork. Saya membaca dari sejumlah artikel mengenai dirinya bahwa untuk menciptakan 1 lagu yang utuh, Bjork bisa mengerjakannya sampai berbulan-bulan dan merupakan "campuran" dari 10-20 lagu "draft" yang ditulisnya. Hebat sekali. Untuk satu lagu, dia bekerja keras menciptakannya dengan rentang waktu yang lama dan dengan konsep yang sampai menghabiskan 10-20 lagu. Sangat wajar sekali bila lagu-lagu Bjork selalu berkualitas tinggi, dipuji kritikus, dan mendapatkan prestasi yang luar biasa di dunia musik internasional. Proses penciptaannya saja bisa "serumit" itu.

Yang saya tangkap di sini bukanlah pada hasil dari karyanya, tapi betapa Bjork bisa menikmati proses kreatifnya, yang melelahkan, memakan waktu, juga tentu menghabiskan banyak energi. Bagi saya ini begitu menyenangkan. Saya pun mencoba mengikutinya. Dalam menulis puisi "yang serius saya lakukan", saya melakukan metode: menulis "mentahan"-nya, setelah itu mengeditnya. Pengeditan ini bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bisa sampai tahunan. Dan seperti apakah pengeditan tersebut? Apakah hanya mengedit kata-katanya saja? Tentu tidak. Di sinilah yang saya berusaha menikmati proses kreatif: saya membaca sejumlah buku atau artikel yang sekiranya bisa "mendukung" materi tulisan yang sedang saya tulis. Misalnya, ketika saya sedang menulis puisi tentang pengaruh arus urban, saya membaca sejumlah buku/artikel mengenai urbanisasi.

Bukan hanya dengan membaca teks, saya juga melakukan observasi dengan kehidupan di sekitar saya sendiri. Tidak usah jauh-jauh dahulu. Misalnya, melihat gaya hidup kakak kedua saya yang "konsumtif yang bodoh" serta sejumlah orang yang mati-matian membeli Blackberry tapi tidak pernah sekalipun membaca buku panduannya ATAU mempelajari semua fitur yang ada di dalamnya. Dari sana, banyak inspirasi yang berdatangan. Maka, saya sering heran dengan mereka yang mengaku PENULIS yang karyanya belum seberapa tapi mencari inspirasi saja sampai harus ke luar negeri. Tentu hal tersebut tidak bisa disalahkan sepenuhnya, tapi apakah dia sendiri sudah mampu menyerap informasi yang ada di lingkungan sekitarnya saja dulu? Sebelum membuatnya sampai harus ke luar negeri demi mendapatkan inspirasi untuk karyanya?

Dan di sinilah saya merasa betapa saya ingin sekali menjadi seniman: apa saja bisa dijadikan inspirasi. Tidak ada yang perlu disesali. Kesedihan, penderitaan, diskriminasi, kebahagiaan, bahkan hal yang sangat sepele yang ada dalam keseharian saya bisa saya manfaatkan untuk terus berproses kreatif. Ya, saya melihatnya sebagai rasa syukur yang tinggi, betapa tidak ada satu pun di dunia ini yang tidak berguna, semua bisa digali sedalam mungkin, tinggal sejauh mana saya bisa peka terhadapnya. Ya, saya ingin sekali menjadi seniman. :)